Langgam.id – Sejumlah elemen masyarakat sipil dan akademisi menggelar Konferensi Republik bertajuk Menatah Republik Konstitusional Sebenarnya di Kota Padang, Sumatera Barat, Senin (31/8/2026).
Kegiatan konferensi dijadwalkan berlangsung pukul 08.00 hingga 17.00 WIB di Kampus Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Andalas (Unand), Jalan Pancasila Nomor 10, Kota Padang.
Sejumlah tokoh tercantum sebagai pembicara dalam konferensi tersebut. Di antaranya Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah, Zainal Arifin Mochtar, Feri Amsari, Khoirunnisa Agustyati, Sudirman Said, Bivitri Susanti, Charles Simabura, Rony Saputra, Ikhsan Alia, Yefri Heriani, Hendra Makmur, Wijayanto Samirin, Fadli Ramadhani, Media Wahyudi Askar, Indah Fajar Lestari, Jawasari Pramodhawardhani, Syafruddin Karim, Munur Fajri, Dicki Rafiqi, Curie Maharani Savitri, Fadli Ajo Wayoik, Yanuar Nugroho dan sejumlah tokoh lainnya.
Pantauan Langgam.id di lokasi acara, sekitar pukul 09.00 WIB kegiatan sudah dimulai, walaupun sejumlah tokoh yang ada dalam pamplet kegiatan tampak belum mengisi kursi yang sudah disediakan panitia.
Salah seorang penggagas konferensi, Feri Amsari mengatakan penggunaan diksi bahasa Melayu dalam tajuk konferensi memiliki alasan tersendiri.
Menurutnya, bahasa Melayu yang kemudian berkembang menjadi bahasa Indonesia dipilih karena kegiatan tersebut digelar di Sumatra Barat.
“Dalam Konferensi Republik kali ini, kami sengaja menggunakan diksi bahasa Melayu yang sudah menjadi bahasa Indonesia karena dilaksanakan di Sumatera Barat,” ujar Feri ketika membuka kegiatan.
Menurut Feri, konferensi tersebut tidak sekadar menjadi forum diskusi, tetapi juga menjadi momentum untuk menguatkan nilai-nilai konstitusional dalam kehidupan bernegara.
Ia menilai nilai-nilai konstitusional harus dianut oleh setiap anak bangsa agar kekuasaan tidak disalahgunakan.
“Bahwa nilai-nilai konstitusional kaum republikan harus dianut setiap anak bangsa agar kekuasaan tidak disalahgunakan,” katanya.
Feri menyebut keberagaman latar belakang para pembicara dalam konferensi tersebut menunjukkan adanya kepedulian berbagai elemen bangsa terhadap keberlangsungan negara dan pentingnya menjunjung nilai-nilai konstitusional.
“Jajaran pembicara kali ini menunjukkan bahwa elemen anak bangsa memiliki kepedulian terhadap bangsa dan nilai-nilai konstitusional untuk dijunjung tinggi,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk menanamkan kecintaan terhadap negara dan bangsa, sekaligus menghindari kultus atau pengutamaan terhadap individu tertentu dalam penyelenggaraan negara.
“Mari kita tanamkan kecintaan kepada negara dan bangsa. Jauhkan dari meninggikan individu dan pastikan negara dikelola atas dasar kepentingan bersama, pusat dan daerah, seluruh anak bangsa bukan individu-individu tertentu,” tutur Feri. (HER)


















































