LPDP Bukan Satu-satunya Pilihan

9 hours ago 13

Dunia maya sedang bising, tentang penerima beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) yang dianggap menghina negara. Pemicunya pernyataan mantan penerima beasiswa LPDP Dwi Sasetningtyas (DS). Kabarnya, DS sendiri sudah lama menyelesaikan kewajibannya. Yang belum itu suaminya.

Menkeu Purbaya sampai turun tangan. Purbaya memerintahkan anak buahnya untuk segera menjatuhkan sanksi. Kata Purbaya, uang yang sudah dihabiskan penerima beasiswa itu (maksudnya mungkin suami DS) segera dikembalikan. Tidak hanya hutang pokok, bunganya juga dihitung.

Bahkan beliau akan memasukkan ke dalam daftar hitam (black list) penerima beasiswa LPDP yang menghina negara itu di seluruh instansi pemerintahan. Maksudnya, peluang yang bersangkutan bekerja di pemerintahan ditutup rapat.

Terlepas dari pernyataan Menkeu Purbaya yang berlebihan, kejadian ini mesti jadi pelajaran bagi anak-anak muda yang ingin melanjutkan kuliah di luar negeri dengan beasiswa. Bagaimanapun, aturan yang dibuat LPDP harus dihormati. Kewajiban untuk kembali ke Indonesia setelah tamat kuliah tentu harus dipatuhi.

Jika tidak setuju dengan itu, jangan ambil. Berikan saja kesempatan kepada yang lain yang membutuhkan dan menyanggupi semua syarat dan ketentuan yang berlaku. Sesederhana itu.

Apakah tanpa LPDP anak-anak muda Indonesia tidak bisa kuliah ke luar negeri dengan beasiswa? Bisa dan bahkan peluangnya cukup besar. Sekarang banyak beasiswa yang disediakan lembaga-lembaga atau perguruan tinggi yang tidak mensyaratkan penerimanya harus pulang ke negara asal.

Saya punya pengalaman. Tahun 2007 saya menerima besiswa dari Macquarie University Sydney Australia melalui skema Macquarie Research Exelence Scholarship (MQRES). Beasiswa penuh, meliputi biaya kuliah (tuition fee) dan biaya hidup (living cost) termasuk biaya sekolah anak. Beasiswa ini tidak mengharuskan saya untuk pulang kampung begitu kuliah saya selesai.

Tidak hanya Macquarie, banyak lagi lembaga atau kampus yang memberikan beasiswa seperti itu.

Berikut adalah langkah-langkah yang dapat ditiru untuk memperoleh beasiswa serupa yang saya dapat, khususnya untuk kuliah tingkat doktoral.

Pertama, siapkan proposal rencana penelitian. Proposal yang menggambarkan secara detail recana penelitian yang akan anda buat jika diterima di perguruan tinggi dimaksud, dan rencana setelah tamat kuliah yang berdampak kepada ilmu dan kemanusiaan. Sebelum proposal disebar, sebaiknya ada orang lain yang membacanya untuk memastikan konten dan kualitas bahasa Inggris poropsal anda baik.

Kedua, temukan calon supervisor atau pembimbing yang cocok dengan tema penelitian anda. Cara menemukannya mudah, kunjungi website perguruan tinggi yang dituju. Pelajari bidang keahlian profesor atau staf pengajar yang bidangnya cocok dengan bidang yang akan anda teliti. Setelah ditemukan, hubungi yang bersangkutan melalui surat elektronik (email). Sampaikan keinginan anda menjadi bimbingannya sembari mengirimkan proposal yan sudah anda siapkan.

Ketiga, masukkan lamaran ke perguruan tinggi yang dituju. Setelah supervisor didapatkan, tahap selanjutnya adalah mendaftar ke perguruan tinggi dimaksud. Biasanya, di formulir pendaftaran terdapat kolom profesor atau staf pengajar di kampus tersebut yang sudah bersedia menjadi supervisor. Itulah pentingnya anda menemukan calon supervisor sebelum memasukkan lamaran.

Biasanya, bila kualifikasi anda memenuhi syarat untuk kuliah di kampus yang anda lamar (termasuk calon supervisor sudah ditemukan), anda akan diberikan LoA (Letter of Acceptance) atau surat penerimaan untuk kuliah di kampus tersebut.

Ingat, jangan taruh telur anda hanya di satu keranjang. Masukkan lamaran anda ke kampus-kampus yang dirasa cocok dan tentu yang sudah ada calon supervisor yang bersedia membimbing anda.

Keempat, saatnya berburu beasiswa. LoA yang sudah di tangan adalah modal besar, untuk mendapatkan beasiswa dari calon pemberi beasiswa. Masukkan sebanyak-banyaknya permohonan beasiswa kepada lembaga-lembaga pemberi beasiswa yang anda ketahui. Yang paling penting, permohonan beasiswa dimasukkan ke kampus yang sudah memberikan anda LoA. Biasanya, setiap kampus di luar negeri menyediakan beasiswa sendiri meskipun jumlahnya agak terbatas dan kompetitif.

Pengalaman saya dulu berburu beasiswa, saya mengantogi 5 LoA. Tiga dari Britania Raya dan dua dari Australia. Setelah menunggu beberapa lama, saya berjodoh dengan Australia yaitu Macquarie University di Sydney.

Macquarie tidak menyuruh saya pulang begitu kuliah saya selesai. Terserah saya. Perjanjiannya memang begitu. Saya pulang ke Indonesia dengan kesadaran dan kemauan sendiri. Rendang sepertinya tetap lebih menggoda daripada fish and chips.

Selamat mencoba. Kalau berhasil, kelak anda tidak akan diancam-ancam Purbaya ketika anda tidak mau pulang ke Indonesia setelah selesai kuliah.

Miko Kamal dikenal sebagai Advokat dan Wakil Rektor III Universitas Islam Sumatera Barat

Read Entire Article
Pekerja | | | |