Langgam.id – Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Andalas (UNAND), Prof. Ir. Mas Mera, M.T., Ph.D., menawarkan paradigma baru dalam upaya mitigasi bencana di kawasan pesisir. Menurutnya, efektivitas bangunan pelindung pantai tidak hanya ditentukan oleh kekuatan konstruksi, tetapi juga oleh ketepatan memilih tipologi bangunan yang sesuai dengan karakteristik wilayah pesisir.
Gagasan tersebut disampaikan Prof. Mas Mera dalam pemaparannya, Senin (6/7/2026). Ia menilai masih banyak pembangunan infrastruktur pelindung pantai yang gagal berfungsi optimal karena tidak disesuaikan dengan karakteristik gelombang, arus laut, dan dinamika sedimen di lokasi pembangunan.
“Bangunan yang kokoh belum tentu mampu melindungi wilayah pesisir jika tipologi yang digunakan tidak sesuai dengan mekanisme kerja alam,” ujarnya, dikutip dari laman kampus, Rabu (8/7/2026)
Menurutnya, perencanaan infrastruktur pesisir harus diawali dengan identifikasi gaya dominan yang bekerja di suatu kawasan. Setelah itu, barulah ditentukan jenis bangunan pelindung yang paling tepat sehingga mampu mengurangi risiko abrasi maupun dampak bencana hidrometeorologi secara efektif.
Sebagai contoh penerapan konsep tersebut, Prof. Mas Mera memaparkan rekayasa pantai di Muaro Putuih, Kabupaten Agam. Di lokasi itu, bangunan groin konvensional dimodifikasi menjadi T-Head Groin sehingga tidak hanya berfungsi menangkap sedimen, tetapi juga memecah gelombang dan menciptakan zona perairan yang lebih tenang.
Menurutnya, perubahan desain tersebut berhasil mempercepat proses sedimentasi alami, mengembalikan stabilitas garis pantai, sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.
Pendekatan serupa juga diterapkan di Pantai Sasak, Kabupaten Pasaman Barat. Rekayasa penataan aliran Sungai Batang Ampu melalui pembangunan rubble mound dan pembentukan muara baru mampu memicu pendangkalan alami hanya dalam waktu sekitar empat bulan.
“Hasil ini menunjukkan bahwa rekayasa yang selaras dengan karakteristik alam mampu memulihkan fungsi kawasan pesisir secara lebih efektif,” katanya.
Dalam pemaparannya, Mas Mera juga membandingkan pembangunan infrastruktur pelindung pantai di Vietnam dan Thailand. Menurutnya, kedua negara tersebut berhasil meningkatkan efektivitas perlindungan kawasan pesisir karena sejak awal memilih tipologi bangunan yang sesuai dengan kondisi alam setempat.
Ia menawarkan tiga prinsip utama yang perlu menjadi dasar dalam pembangunan infrastruktur pesisir, yakni mengidentifikasi gaya dominan yang bekerja di kawasan pantai, memilih tipologi bangunan yang sesuai dengan karakteristik lokasi, serta menyelaraskan kinerja struktur dengan proses alam.
Menurut Prof. Mas Mera, penerapan ketiga prinsip tersebut akan menghasilkan infrastruktur pelindung pantai yang lebih efektif, berkelanjutan, serta mampu meningkatkan keselamatan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan mendukung aktivitas ekonomi di kawasan pesisir. (HER)
















































