Dari Mural Redaksi hingga Suguhan Destinasi Histori Sumbar

2 hours ago 9

LANGGAM.ID— Kekayaan sejarah masa perjuangan di Sumatra Barat atau Sumbar merupakan potensi besar yang butuh perhatian serius oleh pemerintah daerah untuk dikelola sebagai destinasi histori. Mulai dari bapak bangsa hingga pejuang perempuan yang lahir di Sumatra Barat memiliki jejak peristiwa yang layak disuguhi bagi para pelancong.

Diskusi tersebut muncul saat kunjungan Gubernur Sumbar di redaksi Langgam.id pada Selasa (31/3/2026). Pemicu awalnya adalah mural para Presiden Indonesia di salah satu dinding redaksi Langgam. “Ini wajah-wajah presiden ya? Ini cukup lengkap ya. Ada pak Syafruddin Prawiranegara, ada pak Assaat,” ujar Mahyeldi.

Mural tersebut menampilkan adegan para presiden Indonesia tengah nimbrung di sebuah meja kopi. Mulai dari Presiden Soekarno, Soeharto, Bj Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati yang duduk berjejer. Kemudian juga Mural Syafruddin Prawiranegara presiden saat masa PDRI, lalu Assaat yang merupakan Presiden Republik Indonesia Serikat yang berdiri melingkari meja bersama Presiden VI Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden VII Joko Widodo.

“Kalau Pak Prabowo belum ada, karena mural ini dibuat pada 2021,” ujar CEO Langgam.id Andri El Faruqi menyahuti pimbicaraan Mahyeldi.

Dari mural tersebut diskusi melebar sampai ke kekayaan sejarah masa perjuangan di Sumatra Barat yang perlu dikemas menjadi sebuah destinasi histori sebagai daya tarik bagi pariwisata daerah. Andri memisalkan iven peringatan 75 Tahun PDRI pada Januari 2024 lalu yang dihelat oleh Langgam.id mendapat antusias cukup banyak, terutama pada generasi Z.

Pada iven tersebut, 30 orang gen z terpilih dan diikuti sejumlah influencer serta wartawan disebar untuk napak tilas ke tiga lokasi penting selama PDRI, yaitu di Koto Tinggi Kabupaten Limapuluh Kota, Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung, dan ke Bidar Alam di Solok Selatan.

“Dari iven ini tampak antusias terkait wisata sejarah ini cukup menjanjikan. Bahkan yang mendaftar saat itu hampir 300 orang. Ini sangat potensial untuk dikembangkan jika dikemas dengan konsep yang menarik,” katanya.

Menurut Andri, hampir seluruh kabupaten/kota memiliki peristiwa penting selama masa perjuangan dengan berbagai tokoh-tokoh pejuang yang lahir di sana. 

Citra Tanah Kelahiran Para Pejuang

Kekayaan sejarah ini harus menjadi modal besar bagi Sumatra Barat untuk mencitrakan diri sebagai daerahnya para pejuang, mengingat banyaknya para pejuang yang lahir di Sumatra Barat.

“Bahkan ada satu desa yaitu Kota Gadang Kabupaten Agam yang menjadi tanah kelahiran tiga pejuang sekaligus, yaitu Haji Agus Salim, Sutan Sjahrir serta Roehana Kudus. Ini mungkin satu-satunya desa yang memiliki tiga pejuang,” ujar Penasehat Redaksi Langgam.id Hendra Makmur.

Menurutnya, Sumbar harus mulai membangun branding sebagai tanahnya para pejuang dengan memasivkan narasi tersebut. Bahkan, jika perlu dengan membuat tagline selamat datang di ranah kelahiran para pejuang di Bandara Internasional Minangkabau. 

“Ini harus digaungkan untuk mendapatkan persepsi publik bahwa Sumbar adalah tanah kelahiran para pejuang. Pemerintah daerah punya andil besar untuk itu,” katanya.

Diskusi tersebut ditanggapi Gubernur Sumbar Mahyeldi dengan menyiapkan konsep yang tepat untuk mengemas potensi Sumbar sebagai destinasi wisata histori. Seperti dengan menyiapkan paket-paket wisata yang dapat menarik wisatawan ke Sumbar.

Ia memisalkan jika peringatan Hari Bela Negara pada 10 Desember yang berdekatan dengan peringatan peristiwa Situjuah setiap tanggal 14 Januari dapat dikemas dalam satu iven yang berkesinambungan. Dua peristiwa ini yang sangat berperan besar pada masa PDRI 1948.

“Selain sebagai tujuan wisata, konsep ini juga sebagai narasi untuk mewariskan sejarang penting pada masa perjuangan kepada generasi muda,” katanya.

Read Entire Article
Pekerja | | | |