Faktor Musiman, Pemerintah dan BI Optimis Rupiah Kembali Menguat di Semester II

2 hours ago 3

Langgam.id — Pemerintah dan Bank Indonesia optimistis nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akan kembali menguat pada semester kedua 2026. Pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini dinilai lebih dipengaruhi faktor musiman dan sentimen jangka pendek, bukan karena melemahnya fundamental ekonomi nasional.

Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih berada dalam kondisi yang baik sehingga tekanan terhadap rupiah tidak perlu disikapi secara berlebihan.

Menurut dia, pemerintah kini lebih fokus menjaga fondasi ekonomi agar pertumbuhan tetap terjaga di tengah dinamika global.

“Nanti kita perbaiki pelemahan rupiah. Sekarang fondasi ekonominya bagus, itu masalah sentimen jangka pendek. Jadi saya fokus menjaga fondasi ekonomi dengan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terganggu,” ujar Purbaya di Jakarta, Senin (18/5/2026).

Ia menambahkan, pemerintah juga mulai masuk ke pasar obligasi atau bond market sebagai bagian dari langkah menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.

Purbaya menilai sebagian kekhawatiran publik terhadap pelemahan rupiah muncul karena adanya anggapan situasi saat ini menyerupai krisis ekonomi 1997–1998. Namun, menurut dia, kondisi ekonomi Indonesia saat ini jauh berbeda dengan periode krisis tersebut.

Pandangan serupa disampaikan Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo. Perry menjelaskan penguatan dolar AS terhadap rupiah saat ini sebagian besar dipicu kebutuhan musiman seperti pembayaran untuk jemaah haji, dividen perusahaan, serta pembayaran utang luar negeri.

“Penguatan dolar AS ini terjadi karena faktor demand, biasanya untuk kebutuhan jemaah haji, pembayaran dividen, pembayaran utang,” kata Perry di Gedung DPR RI.

BI memperkirakan tekanan terhadap rupiah akan mulai mereda pada Juli hingga September 2026. Berdasarkan pengalaman beberapa tahun terakhir, periode tersebut umumnya menjadi fase penguatan rupiah.

“Dari pengalaman, Juli-Agustus-September akan menguat dan kami meyakini akan kembali ke kisaran Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS, sesuai asumsi makro APBN,” ujar Perry.

Ia menegaskan BI akan terus menjaga stabilitas pasar keuangan tanpa mengorbankan likuiditas di dalam negeri. Menurut dia, bank sentral siap mengambil langkah lanjutan untuk memperkuat rupiah apabila diperlukan.

Perry mengatakan BI juga belajar dari pengalaman krisis 1997–1998, ketika fokus besar pada stabilisasi rupiah justru menyebabkan pengetatan likuiditas yang memperburuk kondisi ekonomi nasional.

“Kami tidak mau itu. Makanya kami membeli SBN di pasar sekunder. Ini sekaligus agar tidak terjadi kekeringan likuiditas dan menjadi bagian untuk menarik inflow,” kata Perry.

Dengan fundamental ekonomi yang dinilai masih kuat serta tekanan musiman yang diperkirakan mereda dalam beberapa bulan mendatang, pemerintah dan BI meyakini nilai tukar rupiah masih memiliki peluang besar untuk kembali stabil dan menguat pada paruh kedua 2026. (HER)

Read Entire Article
Pekerja | | | |