Fenomena Teror Pocong, Sosiolog: Bentuk Kepanikan Sosial

5 hours ago 12

Langgam.id – Fenomena teror pocong ramai diperbincangkan di sejumlah daerah, termasuk di Sumatera Barat (Sumbar). Isu ini mulai mencuat dan bikin heboh, meskipun kepolisian telah menyatakan hoaks.  

Sosilog dari Universitas Negeri Padang (UNP), Erianjoni, menilai fenomena teror pocong bentuk kepanikan sosial yang berkembang akibat perpaduan antara media sosial, budaya mistis, dan rendahnya verifikasi informasi di tengah masyarakat.

Baca juga: Polisi Pastikan Teror Pocong di Padang Hoaks

Menurutnya, isu teror pocong memperlihatkan bagaimana ketakutan dapat diproduksi dan menyebar secara kolektif melalui ruang digital.

“Fenomena ini dapat dikategorikan sebagai bentuk kepanikan sosial atau moral panic,” kata Erianjoni kepada Langgam.id, Jumat (5/6/2026). 

Erianjoni menjelaskan, ketika informasi yang belum terverifikasi terus berulang di media sosial, masyarakat perlahan menganggap sebagai sesuatu yang nyata. Penyebaran isu tersebut tidak terlepas dari peran media sosial, serta pembuat konten yang memanfaatkan tema-tema mistis, untuk menarik perhatian publik.

Ia memandang konten bernuansa horor memiliki daya tarik tinggi, karena mampu membangkitkan emosi masyarakat dibandingkan informasi yang bersifat rasional. Masyarakat Indonesia masih memiliki kedekatan dengan narasi mistis, mitos, dan unsur supranatural yang diwariskan secara budaya.

“Masyarakat Indonesia cenderung menyukai hal hal yang berbau mistis dan humor. Film horor selalu diminati karena menyentuh sisi emosional. Ketika narasi pocong dibangun di media sosial, masyarakat lebih mudah percaya karena sudah memiliki gambaran tentang sosok tersebut,” ungkapnya.

Erianjoni mengungkapkan, kondisi itu membuat isu seperti teror pocong lebih mudah diterima, dan disebarkan dibandingkan informasi yang membutuhkan proses verifikasi.

Baca juga: Heboh Teror Pocong Juga Bikin Resah Warga Kuranji Padang, Camat Selidiki

“Orang lebih cepat merespons informasi yang memunculkan rasa takut daripada informasi yang membutuhkan penalaran. Karena itu isu mistis sering lebih cepat viral dibandingkan fakta yang sudah terverifikasi,” kata dia.  

Lebih lanjut Erianjoni menjelaskan, maraknya isu teror pocong juga harus dibaca sebagai refleksi kondisi sosial yang sedang dihadapi masyarakat. Di tengah berbagai kecemasan mengenai ekonomi, biaya hidup, pendidikan, geopolitik, hingga ketidakpastian masa depan.

“Masyarakat cenderung lebih mudah terpengaruh, oleh narasi yang membangun ketakutan kolektif,” imbuhnya. 

Ia menyebutkan, fenomena ini memiliki sisi lain sebagai bentuk kontrol sosial informal. Isu yang berkembang membuat warga lebih waspada terhadap lingkungan sekitar, meningkatkan ronda malam, dan memperkuat komunikasi antarwarga. 

Namun dengan adanya manfaat tersebut, tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan penyebaran informasi yang belum terbukti kebenarannya.

Ia mengingatkan, hingga saat ini belum ada bukti kuat yang menunjukkan keberadaan pocong, sebagaimana yang ramai beredar di media sosial. Karena itu, masyarakat diminta lebih kritis dalam menyikapi berbagai informasi yang diterima. 

Terutama, kata dia, informasi yang berasal dari akun anonim, video yang tidak jelas sumbernya, atau konten yang berpotensi dimanipulasi menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).

“Kita harus meningkatkan literasi digital. Jangan mudah percaya sebelum memastikan sumber informasi dan kebenarannya. Masyarakat perlu membedakan mana fakta, mana mitos, dan mana konten yang sengaja dibuat untuk membangun sensasi,” tuturnya.

Ia mendorong pemerintah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, dan media massa untuk aktif memberikan edukasi kepada masyarakat, agar isu serupa tidak berkembang menjadi keresahan yang lebih luas. 

“Bagi pihak pemangku jabatan, terutama aparat keamanan, lakukan klarifikasi yang cepat dan informasi  akurat menjadi kunci untuk meredam kepanikan publik di era media sosial,” pungkasnya. (WAN) 

Read Entire Article
Pekerja | | | |