Kabut Asap Mulai Selimuti Sumbar, Jarak Pandang di Kisaran 4-5 Kilometer

4 hours ago 8

Langgam.id — Kabut asap mulai terpantau di sejumlah wilayah Sumatera Barat (Sumbar). Kondisi tersebut menyebabkan jarak pandang pada pagi hari berada di kisaran 4 hingga 5 kilometer.

Koordinator Observasi dan Informasi BMKG Minangkabau, Yudha Nugraha, mengatakan kondisi tersebut diduga merupakan haze atau kabut asap yang berasal dari kebakaran lahan dan bercampur dengan embun.

“Pagi ini untuk visibilitas 4-5 kilometer, diduga haze yang berasal dari kebakaran lahan bercampur juga dengan embun,” ujar Yudha, Senin (24/8/2026).

Berdasarkan pantauan terakhir, sebaran asap terdeteksi melalui analisis citra satelit pada Minggu (23/8) sekitar pukul 16.00 WIB. Sebagian wilayah Sumbar sudah terdeteksi diliputi asap.

Yudha mengatakan, sebaran asap masih berpotensi meluas. BMKG Minangkabau masih menunggu pembaruan hasil analisis untuk melihat perkembangan kondisi tersebut.

“Ada kemungkinan sebarannya meluas untuk saat ini, menunggu update analisis kembali,” katanya.

Fenomena kabut asap tersebut terjadi di tengah kondisi Sumbar yang masih berada dalam periode kemarau. BMKG sebelumnya menyebut sebagian besar wilayah Indonesia tengah didominasi kondisi kering. Pada periode 21-27 Agustus 2026, kondisi kemarau masih mendominasi seiring menguatnya fenomena El Niño.

Kondisi kering tersebut turut meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah. BMKG juga memantau peningkatan aktivitas titik panas di Pulau Sumatera dalam beberapa hari terakhir.

Pada Sabtu (22/8/2026), misalnya, BMKG mencatat lebih dari seribu titik panas di Pulau Sumatera. Sejumlah wilayah di Sumatera bagian tengah dan selatan menjadi daerah dengan konsentrasi hotspot yang tinggi.

Sementara itu, kabut asap juga dilaporkan mulai menyelimuti wilayah Riau. Citra sebaran asap BMKG pada Sabtu (22/8/2026) menunjukkan asap terdeteksi di sejumlah kabupaten di Riau, termasuk Rokan Hilir, Kuantan Singingi, Indragiri Hulu, Pelalawan, Kampar, Siak dan Bengkalis.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pergerakan asap dapat dipengaruhi arah dan kecepatan angin.

Sebelumnya, BMKG Minangkabau juga menyebut asap yang terpantau di Sumbar dapat berkaitan dengan pergerakan massa udara dari wilayah yang mengalami kebakaran maupun aktivitas titik panas di daerah sekitar Sumatera.

Analisis sebaran asap BMKG sendiri dilakukan menggunakan citra satelit dan mempertimbangkan arah serta kecepatan angin.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat di Sumbar diminta mengikuti perkembangan informasi kualitas udara dan cuaca dari BMKG, terutama jika jarak pandang kembali menurun atau kabut asap semakin pekat.

BMKG Minangkabau masih melakukan pemantauan terhadap arah pergerakan asap dan kondisi atmosfer untuk mengetahui perkembangan sebaran kabut asap di Sumbar dalam beberapa waktu ke depan. (HER)

Read Entire Article
Pekerja | | | |