Langgam.id – Pagi itu, langit di sekitar Bandara Internasional Minangkabau (BIM) masih tampak tenang. Udara segar menyambut kedatangan ratusan jemaah haji Bukittinggi dan Pariaman yang baru menuntaskan perjalanan spiritual mereka dari Tanah Suci. Di antara wajah-wajah yang tampak lega dan bahagia, seorang perempuan paruh baya tak mampu menyembunyikan air matanya.
Namanya Busnela. Seorang guru mengaji asal Kampung kecil Guguak Tabek Sarojo, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam. Ketika berbicara tentang pengalaman berhaji, suara perempuan yang sehari-hari mengajar Alquran dan tahfiz itu beberapa kali bergetar. Baginya, perjalanan sebagai jemaah haji Bukittinggi tahun ini bukan sekadar menunaikan rukun Islam kelima, tetapi juga jawaban atas doa yang telah dipanjatkan sejak masa kecil.
“Saya terharu. Rasa ini enggak mau pulang. Mau di situ rasanya. Saya bilang, ‘Ya Allah, berilah aku rezeki kapan lagi ke sini, ya Allah’,” katanya sambil menahan tangis saat diwawancarai di Bandara Internasional Minangkabau, Kamis pagi, 11 Juni 2026.
Busnela bukan sosok yang asing dengan dunia pendidikan Islam. Ia pernah menempuh pendidikan di LIPIA Jakarta, cabang dari Universitas Islam Imam Muhammad Ibnu Su’ud Arab Saudi. Kemampuannya berbahasa Arab menjadi bekal berharga selama menjalani ibadah haji.
“Saya kebetulan bisa bahasa Arab. Saya kuliah dulu di LIPIA Jakarta. Jadi apapun urusan yang saya kerjakan sendiri, alhamdulillah tak ada kesulitan. Saya jemaahnya mandiri, di mana pun sendiri. Alhamdulillah saya sehat, tak ada sakit,” katanya.
Di tengah jutaan manusia yang datang dari berbagai negara, kemampuan berbahasa Arab membuatnya lebih mudah berkomunikasi dengan petugas keamanan maupun masyarakat setempat. Namun menurutnya, kemudahan yang ia rasakan bukan semata karena bahasa.
“Pokoknya kita kalau untuk ke Mekkah ini hati kita dibersihkan,” tuturnya.
Momen paling membekas baginya terjadi saat berada di sekitar Ka’bah dan Multazam. Di tempat yang diyakini sebagai salah satu lokasi mustajab untuk berdoa itu, Busnela mengaku tak kuasa menahan haru.
Ia berhasil menyentuh Ka’bah setelah melakukan tawaf seorang diri. Di tengah kepadatan jamaah, ia memilih bergerak mandiri dibanding mengikuti rombongan besar.
“Alhamdulillah bisa pegang Ka’bah. Kalau mencium agak kesulitan. Saya pergi sendiri bisa pergi ke Ka’bah,” ujarnya.
Air matanya kembali mengalir ketika mengenang salat di dekat Multazam. Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika doa-doa yang selama ini hanya dipanjatkan dari kampung kecilnya di Bukittinggi akhirnya terucap langsung di depan Baitullah.
“Saya dari dulu ingin sekali ke Mekkah, dari kecil suka mengantakan orang ke Mekkah. Ya Allah, saya mengantar orang ke Mekkah. Kapan saya ini diantar ke orang lain ya? Saya kan cuma guru mengaji, ngajar Alquran dengan ngajar tahfiz,” katanya.
Selama berada di Madinah, Busnela juga kerap membantu jamaah lain, terutama saat memasuki Raudhah. Kemampuan bahasa Arab yang dimilikinya membuat ia beberapa kali menjadi tempat bertanya jamaah lain yang mengalami kesulitan.
“Oh iya ada saya bantu jemaah waktu mau ke Raudah,” katanya.
Menurut Busnela, salah satu kunci kelancaran selama berhaji adalah kesabaran dan ketenangan. Ia mengaku selalu berusaha menghindari kerumunan besar dan memilih mengikuti aturan yang berlaku.
Di luar pengalaman spiritual, ia juga memberikan apresiasi terhadap pelayanan penyelenggaraan haji Indonesia 2026 yang menurutnya berjalan baik.
“Kalau pelayannya alhamdulillah. Pokoknya alhamdulillah memuaskan. Seperti sekarang kan Kemenhaj perdana. Alhamdulillah memuaskan jemaah,” ujarnya.
Busnela merupakan bagian dari Kloter PDG 7 Debarkasi Padang yang mendarat di Bandara Internasional Minangkabau pada pukul 05.43 WIB. Kloter tersebut membawa 391 jamaah yang berasal dari Bukittinggi, Pariaman, dan Bengkulu.
Dari jumlah itu, sebanyak 250 jamaah berasal dari Bukittinggi dan 133 jamaah berasal dari Pariaman. Sebanyak 111 jamaah di antaranya merupakan kategori lanjut usia berusia 65 tahun ke atas.
Kepulangan para jamaah haji Sumbar tahun ini juga menyisakan duka. Satu orang jamaah Kloter PDG 7 asal Bukittinggi, Yunilis Muin (73 tahun), wafat di Arab Saudi saat menjalankan ibadah haji.
Bagi Busnela, perjalanan ini menjadi bukti bahwa harapan yang dipelihara puluhan tahun dapat menemukan jalannya sendiri. Setelah menunggu sejak mendaftar pada 2014, ia akhirnya berdiri di hadapan Ka’bah, menyentuh kiswah yang selama ini hanya dilihat dari kejauhan, dan pulang dengan hati yang penuh syukur.
“Pokoknya kemudahan enggak ada kesulitan yang saya rasa. Alhamdulillah itulah,” katanya.
Kisah jemaah haji Bukittinggi ini menjadi potret sederhana tentang keteguhan seorang guru mengaji yang mengabdikan hidupnya untuk Alquran. Dari kampung kecil di lereng Bukittinggi hingga berdiri di depan Ka’bah, Busnela percaya bahwa setiap kemudahan yang ia rasakan adalah pertolongan Allah yang datang pada waktu terbaik.


















































