Langgam.id – Reaktivasi jalur Kereta Api (KA) di Sumatra Barat (Sumbar) dinilai tidak sekadar menghadirkan kembali moda transportasi lama, tetapi juga menjadi langkah strategis untuk memperkuat konektivitas daerah yang selama ini rentan terganggu akibat bencana alam.
Praktisi Sistem Informasi Geografis (GIS) Sumbar, Timtim Deby Purnasebta mengatakan, ketergantungan masyarakat terhadap satu koridor transportasi utama menjadi tantangan besar. Apalagi saat banjir bandang, longsor, maupun galodo melanda kawasan Lembah Anai dan sekitarnya.
Ketika jalur utama terputus, konektivitas antarwilayah terganggu, distribusi logistik melambat, sektor pariwisata terdampak, dan aktivitas ekonomi ikut terhambat. “Kehadiran moda transportasi alternatif seperti kereta api menjadi penting untuk memperkuat sistem transportasi daerah,” ujarnya, Senin (8/6/2026).
Menurut Timtim, kemajuan suatu daerah saat ini tidak lagi hanya diukur dari pembangunan jalan raya, tetapi juga dari kemampuan mengintegrasikan berbagai moda transportasi dalam satu sistem yang efektif.
Kereta Api dinilai memiliki potensi menjadi tulang punggung transportasi yang menghubungkan kawasan pesisir, perkotaan, pusat pertumbuhan ekonomi, kawasan pendidikan, destinasi wisata, hingga bandara dalam satu jaringan yang terintegrasi.
Jika jaringan kereta api terkoneksi dengan Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padang, Pariaman, Padang Panjang, Bukittinggi, Solok, hingga Sawahlunto, manfaat yang diperoleh tidak hanya berupa peningkatan mobilitas masyarakat, tetapi juga efisiensi distribusi barang, terbukanya kawasan ekonomi baru, serta pemerataan pembangunan antarwilayah.
Di sektor pariwisata, reaktivasi jalur KA juga dinilai berpeluang menghadirkan daya tarik baru. Sumbar memiliki lanskap alam yang membentang dari Lembah Anai, Gunung Marapi, Singgalang, Danau Singkarak, hingga kawasan bersejarah Sawahlunto.
Menurut Timtim, apabila dirancang terintegrasi dengan pengembangan destinasi wisata, jalur tersebut berpotensi menjadi salah satu rute wisata kereta api paling menarik di Indonesia. “Di berbagai negara, perjalanan menggunakan kereta api bahkan telah menjadi bagian dari pengalaman wisata yang memiliki daya tarik tersendiri,” ungkapnya.
Namun, di balik peluang tersebut, tantangan yang dihadapi tidaklah ringan. Timtim menekankan bahwa optimisme terhadap reaktivasi KA harus dibarengi dengan perencanaan yang matang, terutama dalam memahami karakter geospasial Sumbar yang kompleks.
Salah satu tantangan utama berada pada koridor Kayu Tanam–Padang Panjang yang melintasi kawasan pegunungan dengan tingkat kemiringan lereng yang relatif ekstrem. “Perlu kajian teknis dan analisis risiko komprehensif agar pembangunan infrastruktur berlangsung aman dan berkelanjutan,” jelasnya.
Kawasan Lembah Anai juga menjadi perhatian khusus karena memiliki karakteristik kebencanaan yang unik. Secara geospasial, wilayah ini dipengaruhi daerah tangkapan air yang berasal dari Gunung Marapi, Gunung Singgalang, dan Gunung Tandikek. Saat hujan ekstrem terjadi di wilayah hulu, akumulasi aliran permukaan dapat meningkat dan memicu banjir bandang maupun galodo.
Timtim menegaskan, setiap tahapan reaktivasi KA harus didukung analisis geospasial yang mendalam, mulai dari pemetaan daerah rawan longsor, analisis daerah tangkapan air, identifikasi zona berisiko tinggi, hingga penyusunan sistem mitigasi bencana di sepanjang jalur yang akan dibangun.
Tantangan lain muncul dari perubahan penggunaan lahan pada jalur rel yang telah lama tidak beroperasi. Di sejumlah segmen, terutama Padang Panjang–Bukittinggi, sebagian bekas jalur kereta api telah berubah menjadi kawasan permukiman, bangunan usaha, akses jalan lingkungan, maupun fasilitas umum.
Kondisi tersebut, kata Timtim, memerlukan inventarisasi spasial yang rinci agar proses reaktivasi tidak memunculkan konflik penggunaan ruang maupun persoalan sosial di tengah masyarakat.
“Data geospasial menjadi instrumen penting dalam menentukan solusi yang tepat dan berkeadilan bagi seluruh pihak,” katanya.
Selain itu, aspek keselamatan transportasi juga perlu menjadi perhatian serius. Perlintasan sebidang yang berpotensi menimbulkan kecelakaan harus dipetakan sejak awal melalui analisis tingkat risiko serta perencanaan sistem pengamanan yang memadai.
“Seluruh risiko harus jadi bagian pertimbangan utama sejak tahap perencanaan agar reaktivasi kereta api dapat memberikan manfaat maksimal,” katanya. (ICA)


















































