“Soenting Melajoe”, Tiga Wajah Roehana Koeddoes di Layar Film

18 hours ago 9

Penulis: Maqri Nelvi Lubis

Koto Gadang seperti serpihan masa lalu yang tersisa di masa kini. Kesan itu dirasakan banyak orang, saat menyusuri nagari yang terletak di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat itu. Deretan rumah berusia lebih seabad yang mendominasi bangunan di nagari seluas 9 kilometer itu, seperti menyuguhkan masa silam dengan segala ceritanya.

Suasana kisah tempo dulu di nagari yang terletak di kaki Gunung Singgalang dan berjarak sekitar 6 kilometer dengan pusat Kota Bukittinggi itu, juga dirasakan oleh Tim TVRI Sumatera Barat saat memproduksi film “Soenting Melajoe” pada 2023 lalu. Suasana yang hadir menjadi salah satu pendukung kuat drama biografi yang mengangkat kisah Pahlawan Nasional Roehana yang lahir dan besar di nagari ini.

“Ada yang bilang, masa lalu seperti datang pada kita dan kitalah yang menjadi tamunya,” kata Budi Darmawansyah, produser TVRI dalam film itu, menggambarkan suasana nagari kelahiran Roehana Koeddoes tersebut.

Kesan serupa juga dirasakan oleh “tiga wajah” beda generasi yang memerankan Roehana Koeddoes dalam film itu. Mereka adalah Seanna Gyoye Inara, Ardanea dan Zurmailis. Seanna memerankan Roehanna saat masih kecil. Ardanela pada usia muda dan Zurmailis berperan wajah Roehana di usia sepuh. Bila Koto Gadang membawa kesan masa lalu, maka kisah Roehana Koeddoes yang ada di dalamnya memberi inspirasi.

“Rumah kayu yang tinggi dengan tangga beton yang lebar menghadirkan suasana masa lalu. Terbayang, bagaimana para gadis belajar membaca dan menulis serta membuat keterampilan tangan pada rumah-rumah dengan arsitektur seperti itu,” kata Zurmailis, yang juga dosen pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Rabu (11/2/2026).

Memerankan Roehana Koeddoes pada masa tua, bagi Zurmailis yang pernah aktif di dunia teater itu, adalah sebuah kehormatan. “Ibu Roehana itu potret yang mewakili sosok ideal perempuan Minangkabau. Ada pepatah Minang yang pas untuk menyebutnya. Samuik tapijak indak mati, tapi alu tataruang patah tigo. Terjemah bebasnya, semut terpijak tidak mati, tapi kalau ia tak sengaja menendang alu (kayu penumpuk padi) bisa patah tiga. Artinya, ada kekuatan yang dahsyat dalam kelembutannya,” kata Zurmailis.

Ia mengapresiasi Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) yang menayangkan Fim “Soenting Melajoe” sebelum diskusi “Tiga Wajah Roehana”. Diskusi yang dipandu Jurnalis Senior Uni Lubis itu menghadirkan pembicara Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat, Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wahyu Dhyatmika, Ketua FJPI, Ketua Yayasan Kerajinan Amai Setia dan Jurnalis Senior Najwa Shihab. Diskusi itu makin lengkap karena dibuka oleh Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid serta dihadiri sejumlah jurnalis perempuan senior.

“Kita perlu mendorong tokoh-tokoh perempuan lain untuk difilmkan. Dari Sumatra Barat, misalnya Siti Manggopoh yang berjuang dengan cara fisik melawan penjajah. Perjuangan beliau-beliau itu dapat menginspirasi generasi hari ini,” kata doktor sejarah sastra, lulusan Universitas Gadjah Mada itu.

Lampiran Gambar

Inspirasi dari Roehana seperti yang disebut Zurmailis terjadi pada dua perempuan dari generasi lebih muda yang memerankan Roehana Koeddoes di film yang sama: Ardanela (25) dan Seanna Gyove Inara (11).

Ardanela menyatakan, sebelum berperan dalam film itu, tak banyak tahu dengan sosok Roehana Koeddoes. Saat mendapat peran, Arda yang saat itu berusia 22 tahun dan masih kuliah di Universitas Negeri Padang coba mempelajari Roehana karena ingin tampil maksimal. Meski aktif di teater kampus saat itu, berperan di fim baginya adalah yang pertama.

“Setelah bermain di film itu, ternyata ada beberapa karakter Ibu Roehana yang tetap terbawa ingatan. Saat ada masalah, saya ingat semangat juang beliau yang tak berhenti. Saat ada masalah, tak boleh lari dan menyerah, harus dihadapi. Karena setiap masalah ada solusinya. Ini yang akan membuat perempuan bisa berdiri di atas kakinya sendiri,” kata Arda, yang kini bekerja di salah satu bank, di Pekanbaru.

Sementara, Seanna yang kini telah duduk di kelas lima SDN 04 Birugo di Bukittinggi beberapa kali menang lomba bertutur dengan membawakan tema Roehanna Koeddoes. “Sean mulai mengenal sosok Roehana Koeddoes pada usia 8 tahun, saat TVRI memberi kesempatan padanya berperan sebagai Roehana Koeddoes kecil,” kata Yossy Febrina, ibunda Seanna.

Setelah mengenal sosok Roehanna, menurut Yossy, putrinya semakin termotivasi untuk mencintai dunia literasi. “Dengan literasi dan membaca, Sean menambah referensinya untuk mendapat ilmu baru dan Sean juga ingin berbagi dengan teman-temannya,” ujarnya.

Selain menang dalam lomba mendongeng,  Seanna membawakan kisah Roehanna Koeddoes dalam lomba bertutur di Bukittinggi. Ia meraih juara pertama dalam lomba bertutur tema pahlawan nasional dan juga juara satu untuk penambilan bakat bertutur tema Roehana Koeddoes.

Roehana Koeddoes lahir pada 20 Desember 1884 dengan nama Siti Roehana. Ayahnya Mohammad Rasjad Maharadja Soetan dan ibunya Kiam. Ayah Roehana, adalah seorang jaksa yang sering berpindah tugas, sehingga Roehana memutuskan menetap di Koto Gadang sejak usia muda, sebelum kemudian ia juga merantau ke Medan, Surabaya dan Jakarta. Nama Koeddoes yang kemudian dilekatkan ke namanya merupakan suami Roehana yang berperan besar mendukung perjuangannya.

Lampiran Gambar

Sejumlah buku yang memuat kisah perjuanggan Roehana, seperti “Rohana Kudus: Riwayat Hidup dan Perjuangannya” (1980) yang ditulis Tamar Djaja dan “Bografi Roehana Koeddoes” (1918) yang dituis Fitriyanti Dahlia mengisahkan, Koto Gadang bukan saja tempat lahir dan besar bagi Roehana, tapi menjadi sentra berbagai kiprah besarnya di masa aktif, yakni sebagai pendidik, aktivis pemberdayaan perempuan dan jurnalis.

Sebagai pendidik, Roehana teah melatih diri sejak kecil dengan mengajari teman-teman sebaya hingga kemudian membuka sekolah untuk kaum perempuan. Tantangan tak membuatnya menyerah, hingga kaum perempuan bukan hanya diajar membaca dan menulis, tetapi juga dilatih keterampilan dan berusaha lewat Kerajinan Amai Setia yang ia buka pada 2011. Tak cukup di sana, pada 2012, atas bantuan Tokoh Pers Mahjudin Salim Datuk Soetan Maharadja, Roehana bersama Ratna kemudian mendirikan “Soenting Melajoe”, media perempuan pertama di Indonesia.

Soenting Melajoe mulai terbit pada 10 Juli 1912 dan ruting terbit selama 8 tahun 6 bulan setiap pekan, hingga edisi terakhir pada 8 Januari 1921. Roehana mengelola media yang terbit di Padang ini dari Koto Gadang, selama ia tinggal di sana. Sampai kemudian ia hijrah ke Bukittinggi dan Medan, ia tetap rutin mengkoordinasikan tulisan-tulisan yang akan terbit.

Di Soenting Melajoe, Roehana menulis berbagai topik. Selain menyemangati kaum pereempuan untuk terus belajar, ia juga menekankan pentingnya mandiri secara finansial dengan keterampian dan kerajinan. Lebih luas dari itu, Roehana dan para penulis di Soenting Melajoe juga menyoroti ketidakadian terhadap perempuan termasuk praktek pergundikan oleh kalangan Belanda. Saat media ini tutup, Roehana sempat menulis dan berkarya untuk beberapa media lainya.

“Meski setelah masa ini, Roehana masih terus menyuarakan perjuangan kaum perempuan lewat sejumah media, Soenting Melajoe bisa dikatakan jadi puncak perjuangan Roehana. Karena melalui media ini, dua gagasan perjuangan Roehana lainnya di bidang pendidikan dan pemberdayaan perempuan, tersebar luas ke berbagai daerah,” kata Hendra Makmur, jurnalis senior yang juga penulis skenario Film “Soenting Melajoe”. (*)

Penulis: Maqri Nelvi Lubis, jurnalis TVRI Sumbar/ sutradara Film “Soenting Melajoe”

Read Entire Article
Pekerja | | | |