Langgam.id – Momentum Dies Natalis ke-70 Universitas Andalas (Unand) dimaknai tidak hanya sebagai perayaan perjalanan institusi pendidikan tertua di Sumatra Barat (Sumbar) itu, tetapi juga menjadi penguatan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui penanaman pohon Andalas.
Pohon Andalas memiliki makna khusus bagi masyarakat Minangkabau. Selain bernilai ekologis, pohon yang menjadi identitas Sumbar sekaligus simbol Unand itu juga menyimpan nilai historis dan filosofis yang kuat.
Kegiatan penanaman pohon tersebut turut dihadiri Rektor Unand Efa Yonnedi, Komisaris Utama PT Hutama Karya Denny Abdi, serta Direktur Human Capital dan Legal PT Hutama Karya Muhammad Fauzan.
Di sela kegiatan, Gubernur Sumbar, Mahyeldi, menegaskan bahwa penanaman pohon tidak boleh dimaknai sebagai kegiatan seremonial semata, melainkan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan lingkungan dan masa depan generasi mendatang.
“Hari ini kita bersama Ibu Biantiningsih Djiwandono dan Ibu Maryani Djojohadikusumo menanam pohon Andalas. Menanam pohon Andalas berarti menanam harapan, menjaga warisan, merawat alam, dan mewariskan kehidupan bagi generasi yang akan datang,” ujar Mahyeldi dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (6/6/2026).
Menurutnya, Pohon Andalas merupakan simbol keterhubungan antara manusia, alam, dan ilmu pengetahuan. Karena itu, keberadaannya perlu terus dijaga sebagai bagian dari identitas daerah sekaligus sarana edukasi lingkungan.
Mahyeldi juga mengapresiasi Unand yang dinilai konsisten mempertahankan kawasan hijau kampus sebagai ruang ekologis yang bermanfaat bagi lingkungan serta menjadi laboratorium pembelajaran bagi mahasiswa dan masyarakat.
“Kawasan hijau yang dimiliki Universitas Andalas merupakan aset yang sangat berharga. Kita berharap kawasan ini terus dijaga dan dikembangkan sebagai percontohan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa keberhasilan gerakan penghijauan tidak ditentukan oleh jumlah bibit yang ditanam, melainkan komitmen dalam merawat pohon hingga tumbuh dan memberikan manfaat nyata.
“Saya minta pohon yang ditanam tidak hanya ditanam, tetapi juga dirawat dengan baik. Jangan sampai berhenti pada kegiatan simbolis semata. Yang lebih penting adalah bagaimana pohon itu tumbuh dan memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” tegasnya.
Lebih lanjut, Mahyeldi menekankan bahwa upaya menjaga lingkungan membutuhkan kolaborasi seluruh elemen, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, hingga masyarakat. Menurutnya, kesadaran kolektif menjadi kunci menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam.
Ia menilai peringatan Dies Natalis ke-70 Unand menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi maupun pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan menjaga lingkungan hidup sebagai warisan bagi generasi mendatang. (ICA)


















































