Alam sebagai Ayat yang Gagal Kita Baca

1 day ago 10

Beberapa waktu terakhir, linimasa seperti surau virtual jika dilihat-lihat. Setiap bencana muncul, kolom komentar langsung penuh fatwa instan “rajin-rajin saja salat,” “perbanyak zikir,” seolah problem ekologis bisa larut dalam doa tanpa perubahan perilaku. Di sisi lain, narasi populis ini terus direproduksi, sementara diskursus ilmiah tentang deforestasi, wisata tanpa AMDAL, tata ruang yang amburadul, dan ekstraktivisme tambang nyaris tak memperoleh ruang, bahkan hampir tak ada dalam percakapan publik.

Ketika banjir bandang datang, semua berlomba menjadi pihak “paling korban,” padahal juga, habitus literasi lingkungan bahkan belum pernah masuk ke kesadaran kolektif. Itulah kadang tragedi kita, merasa religius, tetapi tidak bertanggung jawab; rajin mengangkat tangan ke langit, namun enggan melihat tanah yang perlahan kita rusak sendiri, atau kita abai menyadarinya.

Bahkan oleh sebagian pemangku kepentingan dikatakan bahwa kayu-kayu yang hanyut di sungai hanyalah “kayu lapuk”. Menanggapi pernyataan itu, saya pun berinisiatif mencoba mewawancarai beberapa pohon, meski belum semuanya. Salah satu pohon memberi kesaksian yang cukup mencolok: “Setelah seumur hidup kami berdiri menyaring udara kotor, menjaga tanah dari longsor, dan menjadi rumah burung serta tupai, kini saat hanyut terbawa banjir kami disebut kayu lapuk. Hebat benar logika manusia: ditebang salah, tumbang salah, hanyut pun tetap salah. Kalau begitu, lain kali kami perlu surat keterangan sehat sebelum mati agar tak mengganggu penyelidikan kalian.”

Sarkastik? Tentu. Tapi kadang ironi adalah satu-satunya bahasa yang masih tersisa ketika nalar publik dibungkam oleh dalih pembangunan.

Musim yang tak lagi bisa ditebak telah memperlihatkan wajah muram bumi. Sumatra dipenuhi longsor dan gelondongan kayu, sungai berubah cokelat oleh lumpur dan batuan. Sumatra, Kalimantan dan Jawa Barat menyusul dalam daftar panjang wilayah yang “kebagian jatah” krisis ekologis. Di saat bersamaan, kepala negara dari negeri yang gemah ripah loh jinawi kembali memproklamasikan ambisi prestisius: sawit holic, kini mengarah ke Papua. Alat berat bersiap padahal sudah berbusa-busa mulut masyarakat adat di sana menolaknya, hutan menahan napas. Kita hidup di zaman ketika krisis lingkungan tak lagi sekadar berita ia sudah menjadi pengalaman harian yang menyesakkan, masuk ke paru-paru dan ke dapur rumah tangga.

Namun pertanyaan mendasarnya jarang kita ajukan: apa yang rusak lebih dulu alam atau jiwa manusia? Seyyed Hossein Nasr, pemikir besar Islam kontemporer, sejak lama mengingatkan bahwa krisis ekologi modern bukan semata krisis lingkungan, melainkan krisis spiritual.

Merujuk ”The Spiritual Crisis of Modern Man” yang diterjemahkan sebagai Tuhan, Manusia, dan Alam, alumnus The Peddie School itu menegaskan bahwa manusia modern telah terputus dari sumber ilahinya. Alam tak lagi dipandang sebagai ayat-ayat Tuhan, tapi objek ekonomi yang bisa ditakar, dieksploitasi, dan diperdagangkan. Inilah yang ia sebut sebagai desakralisasi alam: proses panjang pengusiran Tuhan dari kesadaran ekologis manusia.

Jika kita tarik dalam pandangan Islam, alam adalah kitab terbuka. Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia menatap langit, gunung, hujan, angin, dan laut bukan sekadar untuk kagum, tapi juga untuk bertafakkur. “Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya senantiasa bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun, kecuali senantiasa bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra: 44). Ayat ini bukan puisi ekologis belaka saja; ia adalah pernyataan ontologis bahwa alam hidup dalam kesadaran ketuhanan. Setiap batu, pohon, dan makhluk menjalankan zikirnya sendiri dalam simfoni kosmik.

Sayangnya, mata kita lebih sering memakai kacamata ekonomi daripada mata iman, di sini letak masalahnya. Hutan dinilai dari harga kayunya, sungai dari potensi energinya, tanah dari nilai jual per meter. Kalau kita coba pakai kerangka antroposentrisme ekstrem, ya sama saja kalau begitu manusia menempatkan diri sebagai pusat semesta. Begitupun juga, alam yang telah direduksi menjadi komoditas, bukan amanah. Nasr menyebut kondisi ini sebagai kegagalan metafisik modernitas: manusia tahu bagaimana sesuatu bekerja, tetapi lupa mengapa sesuatu ada.

Guna memperkuat kegelisahan ini, mari kita bicara data, bahwa KLHK (2024) mencatat deforestasi netto Indonesia mencapai sekitar 175.400 hektare, meningkat dari tahun sebelumnya. Global Forest Watch (2025) melaporkan kehilangan tutupan pohon hingga 259.000 hektare, dengan episentrum di Kalimantan dan Papua. Kualitas udara Jakarta dan Samarinda melampaui ambang aman WHO (IQAir, 2025). Lautan dicekik jutaan ton plastik; Indonesia kini penyumbang sampah plastik laut terbesar kedua di dunia (World Bank, 2023). Statistik ini dingin, tetapi dampaknya panas banjir, longsor, penyakit, dan krisis pangan.

Akan tetapi ada hal menarik yakni; negeri ini dikenal religius, ya religius. Masjid dan gereja berdiri di setiap sudut, dan juga azan berkumandang, doa tak pernah putus. Namun kesalehan ekologis belum menjadi bagian dari praksis iman. Kita rajin shalat, tetapi membiarkan hutan dibakar demi kebun sawit, dan kita boleh dikatakan jarang bahkan mungkin tidak ada peka terhadap hal itu jika banjir itu belum sampai di halaman rumah kita.

Kita berdoa memohon hujan, tetapi membuang sampah ke sungai. Kita membangun masjid megah, tap idi saat yang sama seraya sambil menebang pohon. Agama berhenti di ritus; etika ekologis tertinggal jauh, bahkan sangat jauh.

Padahal, dalam Islam manusia diangkat sebagai khalifah fil ardh. Khalifah bukan penguasa rakus, melainkan penjaga keseimbangan (mizan). Bumi bukan milik kita, melainkan titipan lintas generasi. Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72). Amanah adalah ujian moral. Ketika alam rusak, sesungguhnya kita gagal menunaikan janji itu.

Pria kelahiran Taheran itu juga mengkritik sains modern yang tercerabut dari nilai. Ilmu pengetahuan sekuler menjelaskan mekanisme, tetapi mengosongkan makna. Karena itu ia menyerukan kebangkitan sacred science sebuah ilmu yang menghubungkan rasio dengan wahyu, teknologi dengan etika, dan pembangunan dengan keadilan ekologis (Knowledge and the Sacred, 1981).

Kita membutuhkan ilmu yang bukan hanya menghitung cadangan tambang, tetapi juga menakar dampak ekologis dan sosialnya. Oleh karenanya Ilmu tanpa nilai, hanyalah pisau tajam di tangan orang lapar.

Humor pahit kembali relevan. Ketika pejabat menyebut kayu hanyut sebagai “lapuk,” seolah masalah selesai dengan semantik, kita justru diingatkan bahwa bahasa sering dipakai untuk menutup luka struktural. Logika semacam ini menyederhanakan kompleksitas ekologis menjadi kambing hitam alam itu sendiri, bukan kebijakan, bukan tata ruang, bukan keserakahan.

Pemikir besar asal Iran itupun menawarkan jalan pulang: ekologi spiritual. Mencintai bumi adalah bagian dari mencintai Tuhan; merusaknya berarti mengkhianati amanah-Nya. Konsep yang boleh dikatakan beresonansi dengan tradisi Islam Nusantara. Ulama dan para salik dahulu mengajarkan menanam pohon, menjaga mata air, hidup hemat, dan bersih, membangun surau berdampingan dengan alam nan tenang, semua bagian dari akhlaqul karimah. Spiritualitas tak berhenti di mihrab; kita bisa sebut kalau ia menembus ladang, sungai, dan hutan.

Kita juga bisa melihat bahwa adanya sebuah gerakan yang bernama, gerakan masjid hijau, ecopesantren, dan ecosufism, dan sedekah pohon semestinya diperluas sebagai ekspresi iman, bukan kosmetik CSR. Menjaga bumi adalah ibadah berjangka panjang; hasilnya mungkin baru dirasakan anak cucu. Indonesia, dengan hutan tropis terbesar ketiga di dunia, memikul amanah global. Pembangunan harus bergeser dari eksploitasi ke pemeliharaan dari pertumbuhan semu ke keberlanjutan bermakna.

Mari kita memahami, bahwa alam menjelma mihrab kosmik untuk menatap tajalli Tuhan. Dalam sunyi rimba itu, denyut air, dan respirasi angin, bergetar risalah transenden yang halus sekaligus qath’i: “Aku hadir.” Saat hutan runtuh dan sungai sekarat, bukan cuma estetika yang gugur, melainkan ruang kontemplatif untuk dzikir kosmologis bersama makhluk-Nya.

Merawat alam identik merawat iman. Sebab Tuhan tak absens Ia bersemayam pada setiap daun terpelihara, setiap molekul air terselamatkan, dan setiap napas jernih yang kita serap dengan kesadaran syukur spiritual ekologis. (*)

Penulis: Habibur Rahman (Alumnus Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sjech M.Djamil Djambek Bukittinggi). Aktif sebagai pegiat media sosial dengan konten memori kolektif ketokohan Tan Malaka.

Read Entire Article
Pekerja | | | |