Langgam.id — Pot yang sengaja dipecahkan, lalu disusun kembali menggunakan perekat berwarna emas, menjadi simbol perjalanan hidup puluhan anak di Panti Asuhan Azzahra Jannah, Kota Padang.
Melalui filosofi seni tradisional Jepang Kintsugi, mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP) mengajak mereka memahami bahwa setiap luka bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat.
Kegiatan bertajuk Rise Me Up itu merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) UNP melalui Program RISEBI (Program Intervensi Psikososial melalui Internalisasi Filosofi Wabi-Sabi). Program ini berfokus pada penguatan self-compassion atau kemampuan menerima, memahami, dan menghargai diri sendiri.
Dalam pelaksanaannya, anak-anak diajak mengenali pengalaman yang pernah membuat mereka sedih dengan menuliskannya pada sebuah pot. Pot tersebut kemudian dipecahkan, lalu disusun kembali menggunakan perekat berwarna emas. Filosofi Kintsugi mengajarkan bahwa benda yang retak tidak kehilangan nilainya, bahkan menjadi lebih bermakna setelah diperbaiki.
Tak berhenti di sana, peserta kemudian menuliskan harapan baru yang ingin mereka raih pada secarik kertas dan menggantungkannya di “ranting harapan”. Aktivitas ini menjadi simbol keberanian untuk meninggalkan masa lalu dan menatap masa depan dengan optimisme.
Ketua Tim PKM-PM UNP, Syifa Ainul Fitri, mengatakan pendekatan Kintsugi dipilih karena memiliki nilai yang selaras dengan tujuan Program RISEBI, yakni membantu anak-anak membangun penerimaan terhadap diri sendiri.
“Melalui kegiatan ini kami ingin anak-anak memahami bahwa setiap orang memiliki pengalaman yang mungkin tidak selalu menyenangkan. Namun, pengalaman tersebut tidak membuat mereka menjadi pribadi yang kurang berharga. Justru dari setiap proses itulah mereka dapat tumbuh menjadi lebih kuat dan memiliki harapan baru,” ujarnya, Rabu (22/7/2026).
Menurut Syifa, penerimaan diri menjadi salah satu fondasi penting bagi kesehatan mental, terutama bagi anak-anak yang tumbuh dalam situasi kehidupan yang penuh tantangan. Karena itu, pendekatan berbasis seni dipilih agar proses refleksi dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami.
Dosen pendamping PKM-PM UNP, Lailatur Rahmi, S.Pd., M.Pd., menilai terapi seni mampu menjadi media yang efektif untuk membantu anak-anak merefleksikan pengalaman hidup sekaligus mengembangkan sikap self-compassion.
“Kintsugi bukan hanya tentang memperbaiki pot yang pecah, tetapi juga mengajarkan bahwa menerima diri sendiri merupakan langkah penting dalam membangun kesehatan psikologis. Harapannya, anak-anak dapat melihat setiap pengalaman sebagai proses belajar yang membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih tangguh,” katanya.
Salah seorang peserta mengaku memperoleh pengalaman baru yang membantunya memandang hidup secara lebih positif.
“Kegiatannya membuat saya lebih bisa menerima kejadian dalam hidup dan semakin semangat mengejar masa depan saya,” ungkapnya.
Tim PKM-PM UNP berharap Rise Me Up tidak sekadar menghasilkan karya seni, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang membekas bagi peserta. Melalui kegiatan ini, anak-anak diharapkan mampu menerima diri, menghargai setiap proses kehidupan, serta menumbuhkan harapan baru untuk masa depan.
Program tersebut menjadi awal dari rangkaian kegiatan RISEBI yang akan dilanjutkan melalui Rise to Know Me, Rise the New Skill, dan Rise and Praise. Seluruh rangkaian dirancang sebagai pendampingan psikososial yang berkelanjutan guna mendukung tumbuh kembang anak-anak panti, baik dari sisi emosional maupun pengembangan potensi diri. (HER)














































