Penanganan Stunting, Profesor UNAND Ingatkan Pentingnya Gizi Perempuan Jauh Sebelum Kehamilan

13 hours ago 12

Langgam.id – Upaya menekan angka stunting tidak cukup dilakukan saat seorang perempuan telah hamil. Pencegahan harus dimulai jauh lebih awal, yakni sejak masa remaja, agar calon ibu memasuki kehamilan dengan kondisi gizi yang baik.

Pesan itu disampaikan Guru Besar Bidang Ilmu Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas, Prof. Dr. Azrimaidaliza.

Menurut Azrimaidaliza, status gizi perempuan sebelum dan selama kehamilan menjadi faktor utama yang menentukan kualitas kesehatan anak di masa depan. Perempuan yang memiliki status gizi baik sebelum hamil memiliki peluang lebih besar melahirkan bayi dengan kondisi gizi optimal, sehingga risiko stunting dapat ditekan sejak awal.

“Kalau ingin membangun generasi yang sehat, cerdas, dan bebas stunting, maka intervensi gizinya harus dimulai sejak remaja, bukan ketika kehamilan sudah berlangsung,” ujarnya, dikutip dari laman kampus, Kamis (9/7/2026).

Ia menjelaskan, Indonesia hingga kini masih menghadapi persoalan triple burden of malnutrition, yakni stunting, kekurangan zat gizi mikro, dan obesitas. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan gizi tidak hanya dipengaruhi oleh kecukupan makanan, tetapi juga dipengaruhi pola hidup, lingkungan, hingga faktor sosial ekonomi.

Azrimaidaliza mengatakan, masalah gizi pada ibu sebenarnya merupakan akumulasi dari kebiasaan yang terbentuk sejak usia remaja. Pola makan yang kurang sehat, rendahnya konsumsi protein, minimnya aktivitas fisik yang seimbang, serta kurangnya literasi gizi menjadi faktor yang memperburuk kondisi tersebut.

Berdasarkan hasil penelitiannya di salah satu wilayah di Sumatera Barat, sekitar sepertiga remaja putri masih mengalami gizi kurang. Selain itu, hampir 20 persen responden memiliki asupan protein yang belum memenuhi kebutuhan harian.

“Kondisi ini berpotensi berlanjut hingga masa kehamilan apabila tidak segera diperbaiki, sehingga meningkatkan risiko anemia, kurang energi kronis, bayi lahir dengan berat badan rendah, hingga stunting,” katanya.

Ia juga memaparkan hasil penelitian kohort yang menunjukkan ibu hamil dengan asupan energi kurang dari 1.800 kilokalori per hari memiliki risiko 1,7 kali lebih besar melahirkan bayi dengan berat lahir di bawah tiga kilogram. Sementara ibu dengan asupan protein kurang dari 65 gram per hari berisiko 3,6 kali lebih besar melahirkan bayi dengan panjang lahir di bawah 48 sentimeter.

Selain faktor individu, ketahanan pangan keluarga turut berpengaruh terhadap pemenuhan gizi ibu hamil. Penelitian yang dilakukan di Kabupaten Pesisir Selatan menemukan lebih dari separuh ibu hamil berada dalam kondisi rawan pangan akibat keterbatasan sosial ekonomi keluarga. Kondisi tersebut meningkatkan risiko anemia dan kurang energi kronis yang berdampak langsung terhadap tumbuh kembang janin.

Azrimaidaliza menegaskan, penanganan stunting membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dengan melibatkan berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga penguatan ketahanan pangan keluarga.

Menurutnya, investasi terbaik dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul adalah memastikan setiap perempuan memasuki masa kehamilan dengan status gizi yang baik. Perbaikan gizi sejak remaja menjadi langkah strategis untuk memutus rantai masalah gizi antargenerasi sekaligus mendukung terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045. (HER)

Read Entire Article
Pekerja | | | |