Suami Meninggal di Huntara, Nurmaini Kini Menanti Kepastian Huntap di Usia Senja

16 hours ago 14

Langgam.id – Sore itu, Nurmaini (66) duduk di depan hunian sementara (Huntara) Kapalo Koto, Kelurahan Cupak Tangah, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Di dinding rumahnya, tampak rak berisi makanan ringan dan jajanan anak-anak yang menjadi sumber penghasilannya sehari-hari.

Saat menceritakan perjalanan hidupnya sejak banjir bandang, melanda Batu Busuk dan Gunung Nago, air mata perempuan lanjut usia itu perlahan menetes.

Bencana tidak hanya merenggut rumah dan sawahnya, tetapi juga mengambil sosok yang selama ini menjadi teman hidupnya.

Suami Nurmaini meninggal dunia pada Mei 2026, ketika mereka masih tinggal di Huntara. Sejak saat itu, ia harus menjalani hari-hari seorang diri, sambil bertahan hidup dari hasil berjualan makanan ringan, yang penghasilannya hanya sekitar Rp30 ribu per hari.

“Rumah saya habis semuanya. Sudah 18 tahun saya bangun rumah itu di Jalan Irigasi. Sawah saya di belakang rumah juga ikut habis,” kata Nurmaini kepada Langgam.id, Senin (20/7/2026).

Sawah yang selama ini menjadi sumber pangan keluarga, kini tertimbun material banjir. Ia mengaku tidak memiliki biaya untuk memperbaikinya.

“Mau diperbaiki juga tidak bisa. Uang tidak ada. Jangankan menyewa alat berat, untuk makan saja sudah susah,” ujarnya.

Nurmaini mengatakan sempat diminta menyerahkan kartu keluarga, dan nomor rekening untuk program bantuan pemulihan sawah, melalui kelompok tani. Namun hingga kini belum ada kejelasan.

Sebelum bencana, sawah miliknya mampu menghasilkan sekitar 11 karung padi setiap panen. Hasil panen itu menjadi persediaan pangan keluarga dari tahun ke tahun.

Kini, kehidupan Nurmaini berubah drastis. Ia mencoba bertahan dengan menjual makanan ringan di Huntara.

“Kadang dapat sekitar Rp30 ribu sehari,” katanya.

Kesedihan Nurmaini semakin dalam setelah kehilangan suaminya. Menurut dia, sang suami bekerja mengambil pasir di sungai setelah bencana.

Suaminya sempat hanyut saat bekerja. Meski berhasil selamat, kondisi kesehatannya terus menurun.

“Dulu suami kerja ambil pasir di sungai. Dia hanyut waktu kerja. Empat bulan setelah hanyut, matanya mulai kabur sampai akhirnya meninggal,” tuturnya.

Kini Nurmaini tinggal sendiri di Huntara. Anak-anaknya masih tinggal di kawasan yang sama, tetapi telah memiliki kartu keluarga masing masing.

Di tengah penantian relokasi ke hunian tetap, perempuan berusia 66 tahun itu kembali dihantui kecemasan.

Ia mendengar Huntap untuk warga Huntara Kapalo Koto kemungkinan akan dibangun di kawasan Sungkai, Kecamatan Pauh. Lokasi tersebut dinilai cukup jauh dari permukiman dan fasilitas umum.

Nurmaini berharap pemerintah dapat menempatkannya di Huntap yang lebih dekat dengan kawasan Pauh.

Di usianya yang tidak lagi muda, ia khawatir tidak sanggup jika harus tinggal jauh dari pusat aktivitas masyarakat.

“Kalau bisa dekat dengan pemukiman di Kecamatan Pauh. Saya sudah tua, tidak kuat lagi kalau terlalu jauh. Tapi kalau memang harus di Sungkai, mau bagaimana lagi,” ucapnya.

Baginya, pilihan yang tersedia semakin sempit. Mengontrak rumah bukanlah sesuatu yang mampu ia lakukan.

“Mau mengontrak juga tidak bisa. Makan saja susah,” katanya lirih.

Selama menghuni Huntara Kapalo Koto, Nurmaini mengaku belum pernah benar benar merasa nyaman.

Saat cuaca panas, suhu di dalam hunian menjadi sangat terik, karena dari lantai rumah ke atap bangunan kisaran 3 hingga 4 meter, sehinga menyerap panas matahari.

Selain itu, ia juga harus berjalan menuju kamar mandi bersama yang letaknya cukup jauh dari tempat tinggalnya.

“Kalau siang panas sekali di dalam rumah. Kamar mandi juga jauh, Tapi mau bagaimana lagi, sekarang hanya di sini tempat kami tinggal,” ujarnya.

Hingga kini, Nurmaini bersama warga Huntara Kapalo Koto masih menunggu kepastian dari pemerintah mengenai lokasi dan waktu relokasi ke Huntap.

Di balik penantian itu, ia hanya berharap memiliki tempat tinggal yang layak untuk menghabiskan sisa usianya, setelah rumah, sawah, dan suami yang dicintainya hilang akibat bencana. (HER)

Read Entire Article
Pekerja | | | |