Triwulan IV 2025: BPS Catat Ekonomi Sumbar Hanya Tumbuh 1,69 Persen

13 hours ago 14

Langgam.id — Perekonomian Sumatera Barat pada triwulan IV-2025 tercatat hanya tumbuh sebesar 1,69 persen secara tahunan (year on year/y-on-y) dibandingkan triwulan IV-2024. Capaian ini menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi daerah di tengah tekanan pada sejumlah lapangan usaha utama dan komponen pengeluaran.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat Nurul Hasanudin mengatakan, pertumbuhan ekonomi Sumbar pada triwulan IV-2025 masih ditopang oleh kinerja sejumlah sektor jasa, meski beberapa lapangan usaha strategis justru mengalami kontraksi.

“Lapangan usaha Jasa Keuangan mencatat pertumbuhan paling tinggi, yakni sebesar 15,58 persen, diikuti Jasa Lainnya sebesar 11,96 persen, serta Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial yang tumbuh 11,66 persen,” kata Nurul Hasanudin, Kamis (5/2/2026).

Selain itu, sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum juga mencatatkan pertumbuhan relatif baik sebesar 6,63 persen, seiring mulai pulihnya aktivitas pariwisata dan konsumsi masyarakat. Namun demikian, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang memiliki peran dominan dalam struktur ekonomi Sumbar hanya tumbuh 1,37 persen.

“Pertumbuhan sektor pertanian yang relatif terbatas ini berpengaruh cukup besar terhadap kinerja ekonomi secara keseluruhan, mengingat kontribusinya masih sangat signifikan terhadap PDRB Sumatera Barat,” ujar Nurul.

Di sisi lain, sejumlah lapangan usaha justru mengalami kontraksi. Transportasi dan Pergudangan terkontraksi sebesar 4,10 persen, sementara sektor Konstruksi turun 2,03 persen. Adapun Perdagangan Besar dan Eceran, termasuk Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, hanya tumbuh 2,11 persen.

Berdasarkan komponen pengeluaran, Nurul menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Sumbar triwulan IV-2025 secara y-on-y juga dipengaruhi oleh dinamika perdagangan luar negeri. Komponen Impor Luar Negeri tumbuh sangat tinggi, yakni sebesar 71,00 persen. Namun, komponen ini merupakan faktor pengurang dalam perhitungan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

“Peningkatan impor yang tinggi menjadi salah satu faktor yang menahan laju pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya.

Sementara itu, komponen Ekspor Luar Negeri tumbuh sebesar 10,31 persen. Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) tumbuh 3,12 persen. Sebaliknya, Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) mengalami kontraksi tipis sebesar 0,05 persen, sedangkan Konsumsi Pemerintah (PK-P) terkontraksi 4,51 persen.

Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), yang mencerminkan aktivitas investasi, juga tercatat mengalami kontraksi cukup dalam sebesar 5,55 persen. Menurut Nurul, penurunan PMTB menunjukkan masih tertahannya investasi di Sumatera Barat sepanjang akhir 2025.

“Kontraksi pada PMTB dan konsumsi pemerintah menjadi sinyal bahwa dorongan pertumbuhan dari sisi permintaan masih belum kuat,” ujarnya.

Dengan pertumbuhan yang hanya mencapai 1,69 persen pada triwulan IV-2025, Nurul menilai penguatan sektor produktif, peningkatan investasi, serta percepatan belanja pemerintah menjadi kunci untuk mendorong perbaikan kinerja ekonomi Sumatera Barat ke depan.

Read Entire Article
Pekerja | | | |