Cerita 3 Anak Panti Asuhan Putri Bungsu Terjebak Berjam-jam di Asrama Saat Banjir

2 hours ago 8

Langgam.id – Langit di atas Jalan Parak Jambu Indah, Kelurahan Dadok Tunggul Hitam, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, tampak kelabu pada Senin (3/8/2026). Hujan pun turun sekitar pukul 11.00 WIB.

Namun, siang itu, penghuni Panti Asuhan Putri Bungsu belum mengira banjir akan datang begitu cepat. Menjelang pukul 15.00 WIB, genangan mulai merayap masuk ke halaman panti.

Semula hanya mengalir tipis di pelataran, lalu perlahan memasuki bangunan. Anak-anak panti berlarian menyelamatkan barang seadanya, sebelum naik ke lantai dua gedung belajar.

Di tengah kepanikan itu, tiga anak perempuan ternyata masih berada di asrama. Mereka tertidur ketika hujan terus mengguyur.

Zahra, seorang penghuni panti, mengaku baru mengetahui ketiga temannya belum ikut mengungsi setelah seluruh penghuni berkumpul di lantai dua.

“Awalnya hujan dari jam 11 siang, tapi belum ada air. Sekitar jam tiga sore air mulai masuk dan kami langsung naik ke lantai dua. Kami kira semua sudah ikut,” katanya mengawali cerita kepada Langgam.id, Selasa (4/8/2026).

Di asrama, air terus meninggi sekitar 80 hingga 100 cm. Tiga penghuni panti itu baru terbangun ketika kasur mulai basah. Mereka berusaha keluar menuju gedung belajar yang berjarak sekitar 10 meter.

Nita, satu dari tiga penghuni yang sempat terjebak memberanikan diri menerobos banjir yang sudah tinggi 130 centimeter, dan udah berwarna cokelat pekat. Lumpur membuat pijakan licin dan arus air semakin kuat.

Ketika Zahra bersama teman-temannya turun ke halaman untuk mengulurkan tangan, Nita akhirnya berhasil mendeketi tepian gedung. Sehingga Nita bisa meraih tangan Zahra untuk ditarik, meski berjalan dengan tertatih melewati genang air tersebut.

Sampai akhirnya Nita berhasil ditarik ke tempat yang lebih aman. Namun, dua penghuni lainnya, Annisa dan Jeni, tak mampu melanjutkan langkah.

Mereka memilih kembali ke asrama. Di tengah ruangan yang terus dipenuhi air, keduanya naik ke ranjang tingkat bagian atas. Itulah satu-satunya tempat yang belum tersentuh banjir.

Selama sekitar enam jam, keduanya bertahan di atas ranjang sambil menunggu bantuan datang. Sekitar pukul 22.00 WIB, tim SAR Brimob akhirnya datang menggunakan perahu karet.

Dalam gelap malam, Annisa dan Jeni dievakuasi menuju lantai dua gedung belajar tempat penghuni lainnya menunggu.

“Mereka sempat bertanya sampai kapan harus bertahan lewat via telfon. Kami cuma bisa bilang sabar,” ujar Zahra.

Sementara itu, Ketua Panti Asuhan Putri Bungsu, Desimar, mengatakan 27 anak tinggal di panti tersebut. Mereka terdiri atas 24 perempuan dan tiga laki-laki yang masih duduk di bangku SD, SMP, dan SMA dan Mahasiswa.

Bangunan panti tidak mengalami kerusakan struktural. Namun, banyak perlengkapan tidak lagi dapat digunakan.

“Buku-buku bacaan rusak karena terendam air dan lumpur. Lantai asrama, perpustakaan, ruang kelas, sampai masjid dipenuhi lumpur,” ujarnya.

Kasur, lemari, kulkas, meja belajar, bangku, sejadah, hingga perlengkapan masjid dikeluarkan ke halaman untuk dibersihkan. Menurut Desimar, bantuan berupa makanan siap saji dan air mineral mulai berdatangan sejak Selasa pagi.

Ia menyebut banjir bukan pertama kali melanda panti yang berdiri sejak 2 Mei 2009 tersebut. Selain banjir, bangunan panti juga pernah terdampak gempa bumi.

“Selama di sini, baru kali ini yang paling tinggi katanya,” ungkapnya.

Kata Desimar, penyebab utama dari banjir limpahan air dari Sungai Dadok, karena tidak mampu menampung tingginya debit air. Apabila di depan Rumah Sakit Baiturahmah banjir, dapat dipastikan banjir juga melanda panti.

“Kalau sudah banjir di Masjid Baiturahmah, airnya pasti mengalir wilayah panti,” ucapnya. (WAN)

Read Entire Article
Pekerja | | | |