Corporate Finance di Era Keberlanjutan: From Managerial Ability to Market Stability

5 hours ago 6

Bayangkan Anda sedang menumpang kapal besar di tengah badai. Ombak datang dari segala arah: gejolak ekonomi global, konflik geopolitik, hingga nilai tukar rupiah yang melemah. Di sinilah pertanyaan terpentingnya bukan seberapa besar kapal itu, melainkan seberapa andal nakhoda yang mengendalikannya. Itulah gambaran paling sederhana tentang kondisi pasar modal Indonesia hari ini: besar, terus tumbuh, namun penuh guncangan yang tak terduga.

Pada akhir 2024, kapitalisasi pasar seluruh saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai sekitar Rp12,3 ribu triliun, angka yang luar biasa besar. Namun pada periode yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru melemah sekitar 2,6 persen secara tahunan. Artinya, meskipun ukuran pasar membesar, nilai saham rata-rata justru merosot.

Setahun berselang, gambarannya jauh lebih dramatis: pada pertengahan Maret 2025, IHSG anjlok lebih dari 6 persen hanya dalam satu hari, hingga memaksa Bursa Efek Indonesia menghentikan sementara perdagangan (trading halt) untuk meredam kepanikan pasar. Ini bukan sekadar angka di layar monitor, melainkan kecemasan nyata jutaan investor yang menaruh uang dan harapan mereka di pasar modal.

Guncangan tidak hanya datang dari dalam negeri. Eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengancam jalur Selat Hormuz sejak akhir Februari 2026 ikut memukul keras harga saham di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Nilai rupiah yang sempat menunjukkan tanda-tanda stabil kembali tertekan, bahkan sempat menyentuh level terlemah dalam sejarahnya.

Dalam dunia keuangan yang semakin terhubung seperti sekarang, krisis di belahan dunia lain bisa terasa langsung di kantong investor Jakarta hanya dalam hitungan menit. Sebagai negara berkembang, Indonesia memang lebih rentan dibandingkan negara maju: volatilitas pasar saham kita tercatat di kisaran 21-22 persen, lebih tinggi dibandingkan Malaysia yang hanya sekitar 16 persen.

Di tengah situasi ini, muncul pula persoalan kepercayaan. Sejak Januari 2026, lembaga indeks saham global bergengsi, MSCI (Morgan Stanley Capital International), membekukan kenaikan bobot dan penambahan saham Indonesia ke dalam portofolio indeks globalnya, dan pembekuan itu diperpanjang lagi pada April lalu. Alasannya bukan karena fundamental ekonomi Indonesia lemah, melainkan karena masalah transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan praktik perdagangan yang terkoordinasi. Bagi investor asing yang mengelola dana triliunan dolar, kejernihan informasi adalah segalanya: begitu informasi tidak jelas, mereka memilih angkat kaki, dan ketika uang asing keluar, pasar kita ikut terguncang. Pekan lalu, dalam tinjauan tahunannya, MSCI memang masih mempertahankan status Indonesia sebagai pasar berkembang (emerging market), tetapi menurunkan peringkat arus informasi kita dan memberi peringatan: jika perbaikan tidak terlihat signifikan hingga peninjauan November 2026, opsi yang lebih berat bukan tidak mungkin dipertimbangkan.

Tantangan tidak berhenti di situ. Dunia usaha kini juga dihadapkan pada tuntutan yang jauh lebih luas daripada sekadar mencari untung. Investor global hari ini tidak hanya bertanya, “Berapa keuntungan perusahaan ini?”, tetapi juga, “Apakah perusahaan ini peduli pada lingkungan? Apakah ia memperlakukan karyawannya dengan baik? Apakah tata kelolanya bersih?” Tiga pertanyaan ini dikenal dengan singkatan ESG: Environmental (lingkungan), Social (sosial), dan Governance (tata kelola). Perusahaan yang abai terhadap ESG kini semakin sulit mendapatkan pendanaan dari investor besar dunia.

Lalu siapakah yang paling menentukan apakah sebuah perusahaan bisa bertahan di tengah semua tekanan ini? Jawabannya: sang manajer atau lebih tepatnya, kemampuan manajerial yang ia miliki. Para ahli manajemen menyebutnya managerial ability, dan ini bukan sekadar soal gelar akademik atau jabatan. Kemampuan manajerial adalah kapasitas nyata seorang pemimpin dalam membaca situasi, mengambil keputusan tepat, mengelola risiko, dan memimpin organisasi melewati badai. Teori Upper Echelons yang dikembangkan oleh Hambrick dan Mason sejak 1984 menegaskan bahwa nasib sebuah perusahaan sangat ditentukan oleh cara pandang dan kualitas orang-orang yang duduk di puncak pimpinannya.

Penelitian yang saya dan tim lakukan di Indonesia membuktikan hal ini secara nyata. Perusahaan yang dipimpin manajer berkemampuan tinggi terbukti lebih jarang mengalami kejatuhan harga saham yang tiba-tiba dan tajam. Mengapa? Karena manajer yang kompeten tidak membiarkan informasi buruk menumpuk dan tersembunyi. Mereka mengelola komunikasi dengan investor secara jujur dan transparan. Ketika tidak ada yang ditutup-tutupi, tidak ada bom waktu yang siap meledak di pasar. Sebaliknya, manajer yang lemah cenderung menyembunyikan kabar buruk, dan ketika kebenaran itu akhirnya terkuak, pasar bereaksi keras dengan menjual saham besar-besaran dalam waktu singkat.

Yang menarik, temuan ini terasa lebih kuat pada perusahaan keluarga, dan ini sangat relevan bagi Indonesia, karena sekitar 95 persen perusahaan yang terdaftar di BEI adalah perusahaan keluarga. Perusahaan keluarga memiliki keunikan tersendiri: pemiliknya tidak hanya menjaga keuntungan finansial, tetapi juga nama baik keluarga yang telah dibangun selama beberapa generasi. Motivasi menjaga reputasi inilah yang justru mendorong praktik tata kelola yang lebih baik dan lebih konsisten dalam menerapkan prinsip keberlanjutan. Ketika kemampuan manajerial yang tinggi berpadu dengan semangat menjaga warisan keluarga, hasilnya adalah perusahaan yang lebih stabil dan lebih dipercaya pasar.

Dari semua temuan ini, ada benang merah yang bisa kita tarik: stabilitas pasar modal bukanlah semata-mata urusan regulator atau kebijakan pemerintah. Ia dimulai dari ruang rapat setiap perusahaan, dari kualitas keputusan yang dibuat oleh para manajer setiap harinya. Ketika ribuan perusahaan yang terdaftar di bursa masing-masing dikelola dengan baik dan transparan, efeknya akan terasa ke seluruh pasar seperti sungai besar yang jernih karena sumber-sumber kecilnya dijaga bersih.

Ini berarti ada pekerjaan rumah bagi semua pihak. Bagi para pelaku usaha, sudah saatnya investasi pada kualitas pemimpin dianggap sepenting investasi pada mesin atau teknologi. Merekrut manajer yang cakap, melatih kemampuan pengambilan keputusan, dan membangun budaya keterbukaan di dalam perusahaan bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan di era yang penuh ketidakpastian. Bagi pemerintah dan regulator seperti OJK dan BEI, tantangannya adalah memastikan bahwa pertumbuhan jumlah perusahaan yang masuk bursa juga diikuti peningkatan standar tata kelola, bukan sekadar mengejar rekor jumlah IPO.

Bagi masyarakat biasa, termasuk jutaan orang yang kini mulai berinvestasi melalui reksa dana atau saham, ada satu pelajaran sederhana yang bisa dipetik: sebelum membeli saham sebuah perusahaan, tanyakan dulu siapa yang mengelolanya dan bagaimana rekam jejaknya. Harga saham bisa naik turun karena banyak faktor yang tidak bisa kita kendalikan, tetapi kualitas pemimpin perusahaan adalah sesuatu yang bisa kita pelajari dan memiliki value tersendiri. Manajer yang baik adalah penjaga nilai investasi Anda yang paling pertama dan paling utama.

Indonesia sedang berada di persimpangan penting. Pasar modal kita tumbuh pesat, jumlah investor terus bertambah, dan semakin banyak perusahaan yang memilih melantai di bursa. Namun pertumbuhan tanpa kualitas adalah pertumbuhan yang rapuh. Yang kita butuhkan bukan hanya lebih banyak perusahaan di bursa, tetapi lebih banyak pemimpin yang benar-benar mampu — pemimpin yang tidak hanya piawai menghasilkan laba hari ini, tetapi juga bijak menjaga keberlanjutan perusahaan untuk anak cucu. Sebab pada akhirnya, kapal yang kuat bukan hanya soal ukurannya, melainkan soal siapa yang memegang kemudinya.

*Penulis: Prof. Masyhuri Hamidi, S.E., M.Si., Ph.D., CFP, CRP, QWP (Guru Besar Corporate Finance, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Andalas)

Read Entire Article
Pekerja | | | |