Langgam.id – Pakar lingkungan dan Kebencanaan Isril Berd menjelaskan, banjir yang terjadi di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kuranji, Kota Padang, merupakan dampak dari kombinasi berbagai faktor hidrologi dan kondisi lingkungan yang saling berkaitan.
Dari sudut pandang sistem hidrologi, kata Isril, banjir dipicu oleh curah hujan ekstrem yang mengguyur wilayah Kota Padang, meluapnya Sungai Batang Kuranji dan Sungai Guo, serta sedimentasi di dasar sungai yang terjadi pascabencana pada November 2025.
“Curah hujan yang sangat tinggi akibat pembentukan pola awan di wilayah barat Sumatra menyebabkan debit air Sungai Batang Kuranji dan Sungai Guo meningkat dengan cepat hingga meluap ke kawasan permukiman, termasuk di Pasar Lalang dan Lapau Munggu,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu (5/8/2026).
Ia menjelaskan, sedimentasi yang mengendap di dasar sungai turut mengurangi kapasitas tampung sungai. Akibatnya, kemampuan sungai untuk mengalirkan volume air menjadi semakin terbatas ketika hujan berintensitas tinggi terjadi.
“Selain itu, kerusakan sejumlah infrastruktur pengendali air, seperti bendungan irigasi yang sebelumnya telah mengalami kerusakan dan akhirnya jebol, ikut memperparah kondisi banjir karena aliran air tidak lagi terkendali dan melimpah ke kawasan daratan,” ungkapnya.
Isril juga menilai karakteristik topografi DAS Kuranji menjadi faktor alam yang mempercepat terjadinya banjir. Bagian hulu DAS Kuranji merupakan kawasan pegunungan dan perbukitan terjal yang membentang dari lereng Bukit Tinjau Laut hingga kawasan Batu Busuk, Kecamatan Pauh, dengan elevasi mencapai sekitar 1.605 meter di atas permukaan laut.
“Kawasan tersebut memiliki lereng yang sangat curam dan dilalui jalur patahan geologi,” jelasnya.
Sementara itu, bagian tengah hingga hilir DAS Kuranji berangsur berubah menjadi wilayah yang lebih landai, datar, hingga kawasan pesisir Kota Padang. Kondisi tersebut menyebabkan aliran air dari kawasan hulu bergerak dengan cepat menuju wilayah hilir ketika terjadi hujan deras.
“DAS Kuranji memiliki pola aliran dendritik dengan panjang sungai utama sekitar 19,69 hingga 32,41 kilometer. Pola ini membuat limpahan dari anak-anak sungai terkonsentrasi ke sungai utama sehingga debit air meningkat dalam waktu singkat saat hujan ekstrem,” kata Isril.
Ia menambahkan, kondisi tanah di kawasan hulu juga memiliki pengaruh besar terhadap potensi banjir dan longsor. Wilayah tersebut didominasi tanah Latosol, Regosol, serta Andosol atau Inceptisol yang masing-masing memiliki karakteristik berbeda.
Tanah Latosol merupakan tanah hasil pelapukan lanjut yang cukup rentan terhadap erosi apabila tutupan vegetasinya berkurang. Regosol memiliki tekstur kasar yang berasal dari material gunung api maupun rombakan batuan tua di lereng curam, sedangkan Andosol merupakan tanah vulkanik yang memiliki daya serap air tinggi, namun mudah mengalami kejenuhan dan kehilangan kestabilan saat diguyur hujan ekstrem.
“Pada kondisi hujan seperti yang terjadi hari ini, tanah-tanah tersebut dapat dengan cepat mencapai titik jenuh sehingga meningkatkan limpasan permukaan, mempercepat aliran air ke sungai, sekaligus meningkatkan risiko longsor di kawasan hulu,” tuturnya.
Isril menegaskan bahwa penanganan banjir di DAS Kuranji tidak cukup hanya melalui normalisasi sungai.
“Tetapi juga harus dilakukan secara terpadu mulai dari rehabilitasi kawasan hulu, pengendalian sedimentasi, pemulihan infrastruktur pengendali banjir, hingga perlindungan tutupan vegetasi agar fungsi daerah resapan air tetap terjaga,” imbuhnya.
Isril menambahkan selain faktor alam, kondisi sistem drainase perkotaan juga menjadi salah satu penyebab banjir di Kota Padang semakin parah ketika hujan dengan intensitas tinggi terjadi.
Kata dia, kapasitas drainase yang ada saat ini tidak lagi mampu menampung debit air dalam jumlah besar sehingga air meluap dan menggenangi kawasan permukiman.
“Kalau diibaratkan seperti kemacetan kendaraan di Kota Padang beberapa tahun lalu, ketika jumlah kendaraan terus bertambah sementara jalan tidak diperlebar, maka yang terjadi adalah kemacetan. Solusinya tentu menambah kapasitas jalan. Begitu juga dengan drainase. Ketika debit air terus meningkat, sementara kapasitas saluran tidak bertambah, maka banjir menjadi sulit dihindari,” bebernya.
Ia menilai, buruknya tata kelola pembangunan perkotaan juga turut memengaruhi efektivitas sistem drainase. Menurutnya, pembangunan di sejumlah kawasan diduga sejak awal belum sepenuhnya memperhatikan jaringan saluran air yang terintegrasi menuju sungai.
Akibatnya, aliran air hujan yang seharusnya dapat segera dialirkan ke sungai menjadi terhambat. Di beberapa lokasi, saluran drainase bahkan tidak terhubung langsung ke sungai, melainkan mengalir ke jalur lain atau berakhir buntu sehingga air tertahan di kawasan permukiman.
“Di beberapa titik di Kota Padang, drainasenya tidak langsung bermuara ke sungai. Ada yang dialihkan ke saluran lain, bahkan ada yang buntu. Kondisi ini menyebabkan air hujan tidak dapat mengalir dengan cepat. Ketika hujan deras turun, air akhirnya menggenangi kawasan-kawasan yang sistem drainasenya tidak lancar, seperti yang terjadi di sejumlah titik banjir pada Senin lalu,” imbuhnya.
Karena itu, Isril menekankan bahwa upaya pengendalian banjir di Kota Padang harus dilakukan secara menyeluruh.
“Selain normalisasi sungai dan rehabilitasi daerah hulu, pemerintah juga perlu mengevaluasi kapasitas jaringan drainase perkotaan serta memastikan setiap pembangunan baru memiliki sistem drainase yang terintegrasi dengan baik menuju badan sungai agar aliran air dapat berjalan lancar saat hujan berintensitas tinggi,” pungkasnya. (WAN)
















































