Risiko Karhutla Masih Mengintai Sumbar, Terdeteksi 449 Hotspot

3 hours ago 7

Langgam.id – Sebanyak 449 titik panas atau hotspot terdeteksi di Sumatra Barat (Sumbar) sepanjang 1-18 September 2026. Pesisir Selatan menjadi daerah dengan jumlah titik panas tertinggi mencapai 167 titik.

Data tersebut dihimpun Dinas Kehutanan Provinsi Sumbar dari Sistem Informasi Pemantauan Titik Panas (SIPONGI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan overlay tutupan lahan tahun 2024.

Kepala Dinas Kehutanan Sumbar, Ferdinal Asmin mengatakan seluruh 449 titik terdeteksi pada periode 1-17 September. Sementara pada 18 September tidak terdapat deteksi hotspot dalam file pengamatan yang tersedia.

“Untuk tanggal 18 September, pada file yang kita terima tidak ada deteksi hotspot. Tapi ini berdasarkan periode dan jam pengamatan tertentu, sehingga tidak bisa dimaknai bahwa sepanjang hari benar-benar nihil hotspot,” kata Ferdinal, Jumat (18/9/2026).

Kondisi tersebut membuat potensi karhutla masih perlu diwaspadai, terutama di daerah dengan akumulasi titik panas tinggi. Setelah Pesisir Selatan, jumlah hotspot terbanyak tercatat di Dharmasraya sebanyak 90 titik, Pasaman Barat 52 titik, Sijunjung 42 titik dan Solok Selatan 30 titik.

“Hotspot juga terdeteksi di Kabupaten Solok sebanyak 19 titik, Lima Puluh Kota 18 titik, Pasaman 17 titik, serta Agam, Kepulauan Mentawai dan Padang Pariaman masing-masing empat titik,” kata Ferdinal.

Ia menyebut bahwa Kota Padang dan Kota Sawahlunto masing-masing mencatat satu titik, sedangkan Kabupaten Tanah Datar tidak mencatatkan hotspot. Dari 449 titik tersebut, 409 berada pada kategori tingkat kepercayaan sedang, 21 titik berkategori rendah dan 19 titik berkategori tinggi.

“Sebaran titik panas juga menunjukkan sejumlah tutupan lahan yang perlu mendapat perhatian. Perkebunan mencatat jumlah tertinggi dengan 109 titik, disusul pertanian lahan kering campur 87 titik dan semak belukar rawa 65 titik,” ujar Ferdinal.

Kemudian terdapat 33 titik pada semak belukar, 32 titik pada rawa sekunder, 31 titik pada lahan terbuka, serta 30 titik pada pertanian lahan kering.

“Hotspot lainnya terdeteksi pada hutan lahan kering sekunder sebanyak 29 titik, hutan tanaman 11 titik, sawah 10 titik, permukiman tujuh titik, hutan rawa primer empat titik, dan tubuh air satu titik,” kata Ferdinal.

Menurut Ferdinal, data tersebut menjadi dasar pemantauan dan pengecekan lapangan terhadap titik panas, khususnya pada wilayah dengan jumlah deteksi tinggi.

“Data ini menjadi dasar bagi kita untuk melakukan pemantauan dan groundcheck, terutama di wilayah yang memiliki deteksi hotspot cukup tinggi,” ujarnya.

Upaya antisipasi dilakukan Dinas Kehutanan Sumbar melalui program Siaga Karhutla dengan melibatkan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), pemerintah daerah, Masyarakat Peduli Api (MPA), dan instansi terkait.

“Selain groundcheck, langkah pencegahan dilakukan melalui sosialisasi, patroli dan pengawasan di lapangan. Analisis spasial serta data cuaca juga digunakan untuk mendukung deteksi dan intervensi dini,” ungkap Ferdinal.

Ia mengatakan bahwa Dinas Kehutanan juga menekankan pencegahan pembakaran lahan, baik oleh masyarakat maupun pelaku usaha.

“Kita memastikan tidak ada pembakaran lahan dalam bentuk apapun, baik oleh masyarakat maupun pelaku usaha,” kata Ferdinal. (HER)

Read Entire Article
Pekerja | | | |