Langgam.id – Densus 88 Anti Teror Polri bekerja sama dengan PT Astra International Tbk, melakukan pelatihan teknisi pendingin udara atau AC bagi mantan narapidana terorisme (napiter). Pelatihan ini berlangsung selama lima hari, 2-6 Juni 2026.
Sebanyak 29 peserta dari empat provinsi, di antaranya Sumbar 14 peserta, Sumatera Utara 10 peserta, Jambi empat peserta, dan Riau satu peserta. Mereka mengikuti kegiatan tersebut di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Padang, Kementerian Sosial Republik Indonesia.
Kasatgaswil Sumbar Densus 88 AT Polri, Kombes Pol Jim Brilliant Bernes mengatakan, kegiatan ini adalah pelatihan ketujuh yang diselenggarakan melalui kolaborasi. Sebelumnya, program serupa telah dilaksanakan di sejumlah daerah, seperti Bogor, Solo, Makassar, Palembang, dan Banten
Pelatihan tersebut menjadi salah satu bentuk nyata kehadiran negara dalam mendukung proses reintegrasi sosial mantan napiter setelah menjalani masa pidana.
Menurut Jim, upaya penanggulangan terorisme tidak dapat hanya mengandalkan penegakan hukum, tetapi juga harus disertai program pendampingan dan pemberdayaan ekonomi.
“Proses penanggulangan terorisme membutuhkan kerja sama seluruh pihak. Hari ini kita melihat kolaborasi antara Densus 88, pemerintah daerah, Kementerian Sosial, dan PT Astra International untuk memberikan pembekalan kepada mitra reintegrasi kami yang sebelumnya pernah berhadapan dengan hukum,” katanya.
Ia menjelaskan, salah satu tantangan yang dihadapi mantan napiter setelah bebas adalah memperoleh kesempatan kerja dan membangun kemandirian ekonomi.
Oleh karena itu, pelatihan keterampilan menjadi langkah penting agar mereka memiliki kemampuan profesional yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus berkontribusi positif bagi masyarakat.
“Kita tidak selesai hanya dengan proses hukum. Yang lebih penting adalah bagaimana mereka bisa kembali diterima masyarakat, hidup mandiri, bahkan memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya,” ujarnya.
Jim menegaskan, seluruh peserta yang mengikuti pelatihan telah melalui proses seleksi dan asesmen yang dilakukan secara profesional oleh pihak Astra.
Densus 88 hanya mengusulkan calon peserta dari masing-masing wilayah, sedangkan penentuan peserta sepenuhnya dilakukan oleh perusahaan.
“Peserta dipilih berdasarkan asesmen profesional. Kami tidak ikut campur dalam proses tersebut. Astra yang menentukan siapa yang layak mengikuti pelatihan,” katanya.
Selain pelatihan teknisi AC, Densus 88 juga menjalankan berbagai program pemberdayaan lainnya bersama kementerian dan lembaga, termasuk pelatihan sertifikasi juru sembelih halal bekerja sama dengan Kementerian Pertanian.
Dept Head Strategic Business Intelligence PT Astra International Tbk, Jaka Fernando, mengatakan program tersebut merupakan implementasi nilai perusahaan yang menekankan kontribusi bagi bangsa dan negara.
Ia menyebutkan pelatihan di Padang merupakan batch ketujuh yang dikhususkan bagi eks napiter binaan Densus 88. Sejak dimulai pada 2023, program tersebut telah menjangkau hampir 300 peserta di berbagai daerah.
“Kami merasa terhormat bisa berkolaborasi dengan Densus 88. Kegiatan hari ini merupakan batch ketujuh dan total peserta yang telah mengikuti program ini hampir mencapai 300 orang,” ujarnya.
Menurut Jaka, pelatihan tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis, tetapi juga membekali peserta dengan kemampuan manajemen usaha, pengelolaan keuangan, serta mentalitas kewirausahaan.
Selain itu, peserta juga memperoleh peralatan kerja yang dapat langsung digunakan untuk menjalankan profesi sebagai teknisi AC.
“Ini merupakan one stop solution untuk mencetak teknisi AC profesional. Kami memberikan pelatihan teknis, manajemen bisnis, hingga perlengkapan kerja yang dapat langsung digunakan di lapangan,” katanya.
Jaka mengungkapkan hasil evaluasi menunjukkan program tersebut memberikan dampak positif bagi para peserta dan keluarganya. Banyak alumni pelatihan yang kini mampu bekerja secara mandiri dan memperoleh tambahan penghasilan yang signifikan.
“Berdasarkan laporan yang kami terima, rata-rata peningkatan pendapatan peserta berada di kisaran Rp2 juta hingga Rp3,5 juta per bulan. Bahkan ada yang lebih tinggi,” ujarnya.
Ia menambahkan, Astra bersama Densus 88 juga melakukan pendampingan pasca-pelatihan melalui monitoring serta pengintegrasian peserta ke dalam komunitas teknisi AC binaan Astra.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sumatera Barat, Mursalim, mengapresiasi kolaborasi antara Densus 88 dan Astra dalam memberikan keterampilan kepada mantan napiter.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bukti nyata kehadiran negara dalam mendampingi mantan napiter agar dapat kembali diterima oleh masyarakat.
“Mereka membutuhkan pendampingan dan penguatan agar bisa hidup normal serta diterima kembali oleh lingkungan sosialnya. Pelatihan ini memberikan keahlian yang dapat menjadi sumber penghasilan bagi keluarga mereka,” katanya.
Mursalim menyatakan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat akan berupaya mendukung keberlanjutan program tersebut, termasuk membuka peluang pemanfaatan jasa para alumni pelatihan.
“Kami berharap OPD maupun ASN di lingkungan Pemprov Sumbar dapat memanfaatkan jasa mereka. Kalau ada AC rusak di kantor atau di rumah, bisa menggunakan jasa para peserta yang telah dilatih ini,” ujarnya. (WAN)

















































