Dosen UNP Bekali Warga Nagari Anduriang Hadapi Risiko Bencana

2 hours ago 6

Langgam.id – Sejumlah dosen Universitas Negeri Padang (UNP) membekali masyarakat Nagari Anduriang, Kabupaten Padang Pariaman, dengan pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Kegiatan yang berlangsung pada 14 dan 19 September 2026 itu memberikan pembekalan mengenai manajemen kebencanaan, pengurangan risiko bencana, penanganan stres hingga pertolongan pertama bagi korban bencana.

Tim pengabdian tersebut diketuai Prof. Fakhrur Razi, PhD, dengan anggota Thamrin, S.Pd., MM., M.Phil dan Nilma Zola, S.Pd., M.Pd.

Ketua Tim Pengabdian, Prof. Fakhrur Razi mengatakan, masyarakat memiliki peran penting dalam kesiapsiagaan bencana karena menjadi pihak yang berada paling dekat dengan lokasi ketika bencana terjadi.

“Kesiapsiagaan bencana tidak cukup hanya dibangun melalui kebijakan dan kelembagaan. Masyarakat juga harus memiliki pengetahuan, kesiapan mental, dan keterampilan dasar agar mampu mengambil tindakan yang tepat ketika bencana terjadi,” ujar Fakhrur.

Menurutnya, penanggulangan bencana tidak hanya berkaitan dengan tindakan setelah bencana terjadi. Masyarakat juga perlu memahami potensi risiko, mempersiapkan diri serta mengetahui langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak bencana.

“Ketika masyarakat memiliki kapasitas yang baik, mereka tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga mampu menjadi bagian dari solusi pada saat terjadi keadaan darurat,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, dosen Departemen Bisnis Digital FEB UNP, Thamrin, S.Pd., MM., M.Phil memberikan materi mengenai manajemen kebencanaan dan pengurangan risiko bencana.

Thamrin menjelaskan, manajemen kebencanaan merupakan proses yang dilakukan sebelum, saat dan setelah bencana terjadi.

“Manajemen kebencanaan bukan hanya berbicara tentang apa yang harus dilakukan ketika bencana sudah terjadi. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita mengenali risiko, mempersiapkan diri, membangun kesiapsiagaan, mengintegrasikan kekuatan sumber daya di setiap Korong dan Kenagarian, serta mengurangi potensi dampak sebelum bencana terjadi,” ujarnya.

Ia mengatakan, masyarakat perlu memahami potensi ancaman yang ada di lingkungan masing-masing serta mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika menghadapi kondisi darurat.

“Setiap masyarakat memiliki lingkungan, potensi ancaman, dan kerentanan yang berbeda. Karena itu, kesiapsiagaan juga harus dibangun berdasarkan kondisi dan risiko yang ada di lingkungan masing-masing Korong dan Nagari,” katanya.

Selain manajemen kebencanaan, masyarakat juga mendapatkan pembekalan mengenai penanganan stres dalam situasi bencana. Materi tersebut disampaikan Nilma Zola, S.Pd., M.Pd dari Departemen Pendidikan Bimbingan dan Konseling FIP UNP.

Nilma menjelaskan, bencana tidak hanya menimbulkan dampak fisik, tetapi juga dapat memberikan tekanan psikologis kepada masyarakat.

“Dalam situasi bencana, seseorang tidak hanya menghadapi ancaman secara fisik, tetapi juga tekanan psikologis. Karena itu, kemampuan mengenali dan mengelola stres menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan masyarakat,” ujarnya.

Ia mengatakan, respons seseorang terhadap situasi bencana dapat berbeda-beda. Karena itu, masyarakat perlu memahami tanda-tanda stres serta mengetahui cara mengelola diri dan memberikan dukungan awal kepada orang lain.

“Yang kita bangun adalah kemampuan masyarakat untuk tetap tenang, mengenali respons stres, dan saling memberikan dukungan. Ketahanan psikologis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat yang tangguh menghadapi bencana,” katanya.

Masyarakat juga dibekali keterampilan pertolongan pertama oleh Aisyah, S.Pd. Materi ini diberikan karena masyarakat di sekitar lokasi bencana sering menjadi pihak pertama yang menemukan dan memberikan bantuan kepada korban.

“Masyarakat perlu memiliki kemampuan dasar untuk memberikan pertolongan pertama ketika menemukan korban bencana. Namun, pertolongan harus dilakukan dengan cara yang benar dan tetap memperhatikan keselamatan penolong maupun korban,” ujarnya.

Dalam pembekalan tersebut, peserta mendapatkan pengetahuan mengenai penanganan korban luka, korban patah tulang, korban pingsan atau tidak sadarkan diri hingga evakuasi jenazah korban bencana.

“Prinsipnya adalah jangan panik, pastikan kondisi lingkungan aman, lakukan penilaian awal terhadap korban, kemudian berikan bantuan sesuai kemampuan dan prosedur yang dipahami,” katanya.

Wali Korong Kampuang Tangah, Kenagarian Anduriang, mengapresiasi kegiatan pengabdian yang dilakukan dosen UNP tersebut. Menurutnya, pembekalan tersebut memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat dalam menghadapi bencana.

“Kami yang mewakili masyarakat Kampuang Tangah Kenagarian Anduriang sangat bangga dengan kegiatan yang diinisiasi oleh Tim Pengabdian Universitas Negeri Padang,” ujarnya.

Ia mengatakan, masyarakat Anduriang sebelumnya juga merasakan langsung dampak banjir bandang yang menyebabkan kerusakan jalan, jembatan dan lahan persawahan.

“Bahkan kami bersama masyarakat mengevakuasi belasan mayat. Dengan kegiatan ini kami merasa sangat beruntung mendapatkan ilmu dan keterampilan dalam hal mitigasi kebencanaan, baik sebelum bencana, saat bencana berlangsung, bahkan setelah bencana terjadi,” katanya.

Prof. Fakhrur Razi mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

“Perguruan tinggi memiliki pengetahuan dan sumber daya akademik yang dapat dikontribusikan untuk memperkuat masyarakat. Melalui pengabdian seperti ini, pengetahuan akademik kita bawa lebih dekat kepada kebutuhan masyarakat,” tuturnya.

Ia berharap pembekalan tersebut tidak berhenti setelah kegiatan selesai, tetapi dapat diterapkan dan dikembangkan masyarakat dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana. (HER)

Read Entire Article
Pekerja | | | |