LANGGAM.ID– Enam bulan setelah galodo menerjang Salareh Aia, Palembayan, Kabupaten Agam, pemandangan masih tampak sama seperti akhir November 2025, saat banjir bandang meluluhlantakkan tiga nagari.
Batu-batu besar masih berserakan di sawah warga, gelondongan kayu menumpuk di bantaran sungai. Rumah warga terdampak masih menyisakan rangka-rangka bangunan belum tersentuh perbaikan.
Di beberapa titik menuju kawasan permukiman, badan jalan tampak retak dan terban ke jurang. Aspal menggantung di sisi tebing tanpa penahan.
Kendaraan yang melintas harus berjalan perlahan karena ruas jalan menyempit dan rawan longsor, terutama ketika hujan turun.
“Kalau malam orang takut lewat sini. Sedikit saja ke pinggir bisa jatuh,” kata Syafrianto, warga Jorong Subarang Aia, saat ditemui Langgam.id, Sabtu (23/5/2026).
Di sisi jalan yang amblas, jurang sedalam belasan meter menganga. Warga memasang batang kayu dan batu sebagai penanda bahaya.
Nagari Salareh Aia termasuk salah satu daerah terdampak bencana paling parah pada November 2025 lalu. Arus air bercampur lumpur, batu, dan kayu turun menghantam pemukiman warga di sejumlah titik di Salareh Aia Timur. Banjir bandang itu menyebabkan 163 orang meninggal. 38 korban lainnya dinyatakan hilang dan tidak ditemukan.

Syafrianto mengatakan sebagian warga hingga kini masih trauma ketika hujan deras turun pada malam hari. Beberapa keluarga memilih mengungsi sementara ke rumah kerabat jika hujan berlangsung lama karena takut terjadi longsor atau banjir susulan.
Kerusakan paling luas terlihat di area persawahan warga. Hamparan sawah yang sebelumnya ditanami padi kini berubah menjadi bentangan batu, pasir, dan lumpur yang mengering.
Di salah satu lokasi dekat aliran Batang Sinuruik, batu-batu besar memenuhi hampir seluruh permukaan sawah. Bekas aliran galodo terlihat membelah area pertanian warga.
Hengki, warga setempat, mengatakan banyak petani belum bisa kembali mengolah sawah mereka karena material batu terlalu banyak dan berat untuk dipindahkan secara manual.
“Kalau hanya lumpur mungkin masih bisa dibersihkan. Tapi sekarang sawah jadi penuh batu,” katanya.
Menurut dia, alat berat sempat masuk ke beberapa titik setelah bencana terjadi. Namun hingga kini masih banyak sawah yang belum tersentuh proses pembersihan karena luasnya kerusakan.
Sebagian petani mencoba membersihkan lahan sendiri menggunakan cangkul dan linggis. Tetapi pekerjaan berjalan lambat karena ukuran batu yang terbawa arus cukup besar.
“Bajak tidak bisa masuk lagi. Sawah sudah berubah,” ujar Hengki.
Sebelum bencana, sebagian besar masyarakat di Salareh Aia Timur menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Sawah dan kebun menjadi sumber penghasilan utama warga. Ketika lahan rusak, pendapatan masyarakat ikut hilang.

Kini sebagian warga bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mulai menjadi buruh bangunan, pergi daerah lain mencari pekerjaan sementara. (fix)

















































