Indonesia sejak awal dibangun di atas kesadaran akan keberagaman. Kita memahami Indonesia sebagai bangsa multikultural. Semangat itu dirumuskan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Meskipun kita berbeda-beda, tetapi tetap satu.
Namun, mulitikulturalisme bukanlah sesuatu yang dipahami secara tetap. Cara masyarakat Indonesia membayangkan dan memaknai kemajemukan selalu berubah mengikuti perkembangan zaman.
Dalam konteks ini, perkembangan teknologi digital merupakan salah satu faktor penting yang mengubah imajinasi masyarakat tentang multikulturalisme Indonesia itu. Jika pada masa lalu keberagaman terutama dibayangkan melalui institusi negara dan media massa, kini ia semakin banyak dialami secara langsung melalui internet dan media sosial.
Benedict Anderson (1983), seorang pemikir kebangsaan, pernah menjelaskan bahwa bangsa pada dasarnya merupakan imagined community atau komunitas yang dibayangkan. Sebagian besar anggota suatu bangsa tidak pernah saling mengenal secara langsung, tetapi mereka merasa menjadi bagian dari komunitas yang sama karena memiliki imajinasi kolektif tentang kebersamaan.
Dalam sejarah Indonesia, sekolah, surat kabar, radio, dan televisi memainkan peran penting dalam membentuk imajinasi tersebut. Melalui berbagai media itu, masyarakat diperkenalkan pada keragaman suku, bahasa, adat istiadat, dan budaya yang membentuk Indonesia. Namun, hubungan dengan keberagaman itu sebagian besar bersifat tidak langsung. Banyak orang mengenal kelompok lain melalui representasi yang disediakan negara dan media, bukan melalui interaksi personal.
Internet mengubah kondisi tersebut secara mendasar. Ruang digital memungkinkan masyarakat dari berbagai daerah berinteraksi secara langsung tanpa dibatasi jarak geografis. Seorang pelajar di Jawa dapat mengikuti kehidupan sehari-hari masyarakat Papua melalui media sosial. Komunitas kreator konten dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara dapat berkolaborasi dalam ruang digital yang sama. Bahkan budaya lokal yang sebelumnya hanya dikenal di wilayah tertentu kini dapat menjadi konsumsi publik nasional dalam hitungan jam.
Fenomena ini menunjukkan bahwa keberagaman tidak lagi hanya dipelajari, melainkan juga dialami. Media sosial membuat masyarakat Indonesia hidup dalam lingkungan komunikasi yang jauh lebih intens dengan kelompok-kelompok yang berbeda latar belakang. Pengalaman semacam ini secara perlahan mengubah cara masyarakat memandang identitas dan perbedaan.
Perubahan tersebut juga terlihat pada semakin populernya berbagai ekspresi budaya daerah di ruang digital. Lagu berbahasa daerah, kuliner lokal, tradisi komunitas, hingga dialek tertentu dapat memperoleh perhatian luas dari pengguna internet di seluruh Indonesia. Yang menarik, apresiasi terhadap budaya lokal kini tidak selalu dimediasi oleh negara sebagaimana terjadi pada masa sebelumnya, melainkan tumbuh melalui interaksi horizontal antarmasyarakat.
Di saat yang sama, internet memperluas cakupan pengalaman multikultural masyarakat Indonesia hingga melampaui batas negara. Generasi muda Indonesia kini tidak hanya berinteraksi dengan sesama warga Indonesia, tetapi juga dengan berbagai komunitas global melalui media sosial, gim daring, platform video, maupun forum digital. Akibatnya, cara mereka memandang identitas nasional menjadi semakin terbuka terhadap pengaruh global.
Karena itu, multikulturalisme Indonesia saat ini berada dalam situasi yang berbeda dibandingkan beberapa dekade lalu. Jika dahulu keberagaman terutama dipahami dalam kerangka nasional, kini keberagaman tersebut semakin berkelindan dengan pengalaman global. Menjadi orang Indonesia tidak lagi berarti hidup dalam ruang budaya yang relatif tertutup, melainkan berada dalam jaringan hubungan yang bersifat lokal sekaligus global.
Tentu saja perkembangan ini tidak sepenuhnya menghadirkan dampak positif. Ruang digital juga memungkinkan penyebaran prasangka, polarisasi, dan konflik identitas secara lebih cepat. Namun, jika dilihat dalam perspektif yang lebih dalam, internet telah memperluas kesempatan masyarakat untuk mengenal kelompok lain secara lebih dekat daripada generasi-generasi sebelumnya.
Di sinilah tantangan sekaligus peluang Indonesia ke depan. Teknologi telah mengubah cara kita membayangkan bangsa dan keberagaman. Persoalannya bukan lagi bagaimana memperkenalkan perbedaan kepada masyarakat, melainkan bagaimana mengelola ruang digital agar perbedaan tersebut menjadi sumber dialog dan solidaritas. Masa depan Bhinneka Tunggal Ika akan sangat ditentukan oleh kemampuan kita menjadikan teknologi sebagai sarana memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat yang semakin terhubung.
*Penulis: Sartana, M.A. (Dosen Psikologi Departemen Psikologi di Univesitasa Andalas)


















































